Bila saat ini anda kebetulan berada
di Sumberagung dan bertanya kepada warga sekitar perihal Tan Tiek Sioe, maka
tanggapan mereka akan beragam. Ada yang menyebutnya sebagai Pangeran Papak,
karena memang keempat jari di kedua tangannya tergolong aneh. Keempat jarinya
akan rata di kedua ujungnya baik sedang menggenggam maupun sedang berdiri. Ada orang
yang menyebutnya denga sebutan “eyang” walaupun sebutan tersebut teramat tidak
pantas disandangnya karena ia tewas sebelum usia 30 tahun. Ada juga yang
kelewat batas memberi penghormatan terhadapnya karena saking takut akan terkena
kutukan. Contohnya Mr P, orang ini bahkan ketika saya temui karena saya ingin
meminjam salah satu buku karangan Ta Tiek Sioe bahkan langsung menolak keras
dan malah ketakutan. Ketika saya tanya mengapa sebegitu takutnya? Jawabannya sungguh
mengagetkan saya, karena minturutnya, memegang dan membaca buku karangan Tan Tiek
Sioe tidak boleh sembarangan dan harus dilakukan pada malam tanggal 1 suro pada
penanggalan Jawa!!.
Karena tidak mempercayai
kata-katanya, lantas saya mengeluarkan salah satu buku milik saya dari tas
kecil yang saya bawa yang kebetulan judulnya sama dengan miliknya, seketika ia menunjukkan
wajah pucat ketakutan serta terbirit-birit entah kemana....
Saya menunggunya agak lama, namun
tetap tidak muncul-muncul....lantas terdengar beep pesan pendek di hp saya,
saya buka, ternyata isinya meminta agar saya memasukkan kembali buku tersebut
ke tas agar dia bisa kembali. Singkat cerita, akhirnya saya turuti permintaanya
dan kami ngobrol seperti biasa kembali......
Bila mau jujur, buku tersebut sebenarnya
sulit dibaca oleh orang masa kini karena ditulis dengan bahasa campuran
Jawa-Melayu dengan ejaan dan penulisan huruf latin zaman kuda gigit besi plus
dialek Hokkian!! Pembacapun pasti akan tersiksa membacanya karena banyak
istilah yang dipakai dalam buku tersebut yang kini sudah tidak dikenal lagi. Paling
tebal bukunya hanya berisi tidak lebih dari 200 halaman, namun dalam waktu
sebulan belum tentu anda akan dapat menyelesaikan membacanya apalagi memahaminya!!
Lantas, bagaimana mungkin Mr P tersebut dapat menyelesaikannya dalam semalam?? Sungguh
ironis bukan??
Banyak warga etnis Cina yang
berusaha bertapa di lokasi petilasan goa padepokan Tan Tiek Sioe ini, bahkan
jumlahnya mungkin sudah tak terhitung lagi, namun kesemuanya gagal mendapatkan
ambisinya. Bahkan ada seorang pertapa yang konon bahkan ditangkap warga karena terbukti
menghamili gadis warga sekitar dan dipaksa mengawininya!!!
Saya pernah membawa seorang teman dari
Jakarta yang memang punya indera keenam yang tajam yang sama sekali tidak
pernah mengerti informasi apapun perihal Tan Tiek Sioe untuk berkunjung ke
petilasannya. Saya kaget ketika dia mendadak pucat pasi ketika baru masuk ke
gerbang padepokan tersebut. Ketika sampai di rumah, dia cerita bahwa ia
dihadang sosok pemuda etnis Cina seusia 20-an tahun dengan jubah kuno warna
ungu mengkilat dengan garis tepi keemasan dengan bahasa tubuh tidak
bersahabat!! Yang bikin temen pucat pasi justru ketika dia lihat jemarinya “rata”
!! padahal saya sengaja tidak memberitahu apapun sebelumnya....
No comments:
Post a Comment