Friday, August 23, 2013

TAN TIEK SIOE MINTURUT PANDANGAN WARGA SUMBERAGUNG TERKINI


Bila saat ini anda kebetulan berada di Sumberagung dan bertanya kepada warga sekitar perihal Tan Tiek Sioe, maka tanggapan mereka akan beragam. Ada yang menyebutnya sebagai Pangeran Papak, karena memang keempat jari di kedua tangannya tergolong aneh. Keempat jarinya akan rata di kedua ujungnya baik sedang menggenggam maupun sedang berdiri. Ada orang yang menyebutnya denga sebutan “eyang” walaupun sebutan tersebut teramat tidak pantas disandangnya karena ia tewas sebelum usia 30 tahun. Ada juga yang kelewat batas memberi penghormatan terhadapnya karena saking takut akan terkena kutukan. Contohnya Mr P, orang ini bahkan ketika saya temui karena saya ingin meminjam salah satu buku karangan Ta Tiek Sioe bahkan langsung menolak keras dan malah ketakutan. Ketika saya tanya mengapa sebegitu takutnya? Jawabannya sungguh mengagetkan saya, karena minturutnya, memegang dan membaca buku karangan Tan Tiek Sioe tidak boleh sembarangan dan harus dilakukan pada malam tanggal 1 suro pada penanggalan Jawa!!.

Karena tidak mempercayai kata-katanya, lantas saya mengeluarkan salah satu buku milik saya dari tas kecil yang saya bawa yang kebetulan judulnya sama dengan miliknya, seketika ia menunjukkan wajah pucat ketakutan serta terbirit-birit entah kemana....

Saya menunggunya agak lama, namun tetap tidak muncul-muncul....lantas terdengar beep pesan pendek di hp saya, saya buka, ternyata isinya meminta agar saya memasukkan kembali buku tersebut ke tas agar dia bisa kembali. Singkat cerita, akhirnya saya turuti permintaanya dan kami ngobrol seperti biasa kembali......

Bila mau jujur, buku tersebut sebenarnya sulit dibaca oleh orang masa kini karena ditulis dengan bahasa campuran Jawa-Melayu dengan ejaan dan penulisan huruf latin zaman kuda gigit besi plus dialek Hokkian!! Pembacapun pasti akan tersiksa membacanya karena banyak istilah yang dipakai dalam buku tersebut yang kini sudah tidak dikenal lagi. Paling tebal bukunya hanya berisi tidak lebih dari 200 halaman, namun dalam waktu sebulan belum tentu anda akan dapat menyelesaikan membacanya apalagi memahaminya!! Lantas, bagaimana mungkin Mr P tersebut dapat menyelesaikannya dalam semalam?? Sungguh ironis bukan??

Banyak warga etnis Cina yang berusaha bertapa di lokasi petilasan goa padepokan Tan Tiek Sioe ini, bahkan jumlahnya mungkin sudah tak terhitung lagi, namun kesemuanya gagal mendapatkan ambisinya. Bahkan ada seorang pertapa yang konon bahkan ditangkap warga karena terbukti menghamili gadis warga sekitar dan dipaksa mengawininya!!!

Saya pernah membawa seorang teman dari Jakarta yang memang punya indera keenam yang tajam yang sama sekali tidak pernah mengerti informasi apapun perihal Tan Tiek Sioe untuk berkunjung ke petilasannya. Saya kaget ketika dia mendadak pucat pasi ketika baru masuk ke gerbang padepokan tersebut. Ketika sampai di rumah, dia cerita bahwa ia dihadang sosok pemuda etnis Cina seusia 20-an tahun dengan jubah kuno warna ungu mengkilat dengan garis tepi keemasan dengan bahasa tubuh tidak bersahabat!! Yang bikin temen pucat pasi justru ketika dia lihat jemarinya “rata” !! padahal saya sengaja tidak memberitahu apapun sebelumnya.... 

BONUS BAGI PENGUNJUNG [3] :

SYAIR YANG MENGGAMBARKAN KISAH HIDUP TAN TIEK SIOE


Kisah hidup Tan Tik Sioe tidak lepas dari kutukan seumur hidupnya. Melalui syair yang ia tatah dan abadikan di salah satu dinding padepokan miliknya, menggambarkan apa yang saya tulis ; menyandang penyakit autism, hidup melarat, menyendiri jauh dari sanak famili hingga akhir hayat, dan segudang cerita tragis hidupnya ia tulis begitu jelas dalam syair seperti yang saya kutip di bawah ini dan silahkan dengan bebas dianalisa ; 


TOENGGANG KERBOOWMOE HIDJOOW ITOE ATIE-ATIE

ZONDER SABAAR
TIDAK KAMILIKAN
ZONDER DOEWEET
DJANGAN MOORKAH
DJAOEH FAMILIMOE
TIDAK ANAK DAN BINIE
DJANGAN DJOESTAK
ZONDER OBROLL
TIDAK BOHONG
DJANGAN POERAK-POERAK
TIDAK TJEREWEET

BONUS BAGI PENGUNJUNG [2] :


SERAT SABDOPALON _ KAWACA MINTURUT TEMBANG SINOM

[Sebuah narasi berisi kisah memilukan perihal takluknya agama Buddha dalam kancah sistem kekuasaan di Tanah Jawa. Hal ini terjadi ketika penyebar agama islam telah berhasil menyusupkan perempuan muslim cantik berdarah Cina/Campa dengan dalih sebagai hadiah buat Sang Raja Majapahit yang diketika itu bernama Majalengka, yakni Prabu Brawijaya. Sang raja terpengaruh selirnya tersebut dan dari selir ini lahir Raden Patah yang kemudian meneruskan misi penyebaran agama islam melalui sistem kekuasaan di tanah Jawa sekaligus meruntuhkan Kerajaan Hindu-Buddha terbesar di  Nusantara yakni Majapahit].



1. Padha sira ngelingana, carita ing nguni-nguni, kang kocap ing sêrat Babad, Babad nagri Mojopahit, nalika duk ing nguni, Sang-a Brawijaya Prabu, pan samya pêpanggihan, kaliyan Njêng Sunan Kali, Sabda Palon Naya Genggong rencangira.

Ingatlah kalian semua, akan cerita masa lalu,yang tercantum didalam Babad(sejarah), Babad (sejarah)Negara Majapahit, ketika itu, Sang Prabhu Brawijaya, tengah bertemu, dengan Kangjeng Sunan Kalijaga, ditemani oleh Sabdo Palon dan Naya Genggong.

2. Sang-a Prabu Brawijaya, sabdanira arum manis, nuntun dhatêng punakawan, Sabda Palon paran karsi, jênêngsun sapuniki, wus ngrasuk agama Rasul. heh ta kakang manira, meluwa agama suci, luwih bêcik iki agama kang mulya.

Sang Prabhu Brawijaya, bersabda dengan lemah lembut, mengharapkan kepada kedua punakawan( pengiring dekat )-nya, Sabdo Palon bagaimana pendapatmu, diriku ini sekarang, sudah memeluk Agama Rasul (Islam), wahai kalian kakang berdua, ikutlah memeluk agama suci, lebih baik karena ini agama yang mulia.

3. Sabda Palon matur sugal, Yen kawula botên arsi, ngrasuka agama Islam, wit kula puniki yêkti, Ratuning Danghyang Jawi, momong marang anak putu, sagung kang para Nata, kang jumênêng ing tanah Jawi, wus pinasthi sayêkti kula pisahan.

Sabdo Palon menghaturkan kata-kata agak keras, Hamba tidak mau, memeluk agama Islam, sebab hamba ini sesungguhnya, Raja Danghyang ( Penguasa Gaib ) tanah Jawa, memelihara kelestarian anak cucu (penghuni tanah Jawa), (Serta) semua Para Raja, yang memerintah di tanah Jawa, sudah menjadi suratan karma(wahai Sang Prabhu), kita harus berpisah.

4. Klawan Paduka sang Nata, wangsul maring sunya ruri, mung kula matur petungna, ing benjang sak pungkur mami, yen wus prapta kang wanci, jangkêp gangsal atus taun, wit ing dintên punika, kula gantos agami, gama Budi kula sêbar ing tanah Jawa.

Dengan Paduka Wahai Sang Raja, kembali ke Sunyaruri (Alam kosong tapi ber-'isi'; Alam yang tidak ada tapi ada), hanya saja saya menghaturkan sebuah pesan agar Paduka menghitung, kelak sepeninggal hamba, apabila sudah datang waktunya, genap lima ratus tahun, mulai hari ini, akan saya ganti agama (di Jawa), agama Buddhi akan saya sebarkan ditanah Jawa.

5. Sinten tan purun nganggeya, yêkti kula rusak sami, sun sajakken putu kula, brêkasakan rupi-rupi, dereng lêga kang ati, yen durung lêbur atêmpur, kula damêl pratandha, pratandha têmbayan mami, ardi Mrapi yen wus njêblug mili lahar.

Siapa saja yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan, akan saya berikan kepada cucu saya sebagai tumbal, makhluk halus berwarna-warni (Energy negative semesta), belum puas hati hamba, apabila belum hancur lebur, saya akan membuat pertanda, pertanda sebagai janji serius saya, yaitu manakala gunung Merapi apabila sudah meletus mengeluarkan lahar.

6. Ngidul ngilen purugira, ngganda bangêr ingkang warih, nggih punika wêkdal kula, wus nyêbar agama Budi, Mêrapi janji mami, anggêrêng jagad satuhu, karsanireng Jawata, sadaya gilir gumanti, botên kenging kalamunta kaowahan.

Kearah selatan barat mengalirnya, berbau busuk air laharnya, itulah waktunya, sudah mulai menyebarkan agama Buddhi, Merapi janji saya, sungguh akan menggelegar jagad ini,(sudah) Kehendak Tuhan, (karena) segalanya (pasti akan) berganti, dan tidak mungkin untuk dirubah lagi.

7. Sangêt-sangêting sangsara, kang tuwuh ing tanah Jawi, sinêngkalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, upami anyabrang kali, prapteng têngah-têngahipun, kaline banjir bandhang, jêrone ngêlêbna jalmi, kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

Sangat sangat sengsara, yang hidup ditanah Jawa, perlambang tahun kedatangannya, LAWON SAPTA NGESTI AJI ( LAWON ; 8, SAPTA ; 7, NGESTHI ; 9, AJI ; 1 = 1978 Saka), seandainya menyeberangi sungai, ketika masih berada ditengah-tengah, banjir bandhang akan datang tiba-tiba, tingginya air mampu menenggelamkan manusia, banyak manusia sirna karena mati.

8. Bêbaya ingkang tumêka, warata sak Tanah Jawi, ginawe Kang Paring Gêsang, tan kenging dipun singgahi, wit ing donya puniki, wontên ing sakwasanipun, sadaya pra Jawata, kinarya amrêtandhani, jagad iki yêkti ana kang akarya.

Bahaya yang datang, merata diseluruh tanah Jawa, diciptakan oleh Yang Memberikan Hidup, tidak bisa untuk ditolak, sebab didunia ini, dibawah kekuasaan, Tuhan dan Para Dewa, sebagai bukti, jagad ini ada yang menciptakan.


9. Warna-warna kang bêbaya, angrusakên Tanah Jawi, sagung tiyang nambut karya, pamêdal botên nyêkapi, priyayi keh bêranti, sudagar tuna sadarum, wong glidhik ora mingsra, wong tani ora nyukupi, pamêtune akeh sirna aneng wana.

Bermacam-macam mara bahaya, merusak tanah Jawa, semua yang bekerja, hasilnya tidak mencukupi, Pejabat banyak yang lupa daratan, Pedagang mengalami kerugian, yang berkelakuan jahat semakin banyak, yang bertani tidak menghasilkan apa-apa, hasilnya banyak terbuang percuma dihutan, (maksudnya habis untuk mengelola tanah tapi hasil panen tidak ada).

10.Bumi ilang bêrkatira, ama kathah kang ndhatêngi, kayu katahah ingkang ilang, cinolong dening sujanmi, pan risaknya nglangkungi, karana rêbut rinêbut, risak tataning janma, yen dalu grimis keh maling, yen rina-wa kathah têtiyang ambengal.

Bumi hilang berkahnya, banyak hama mendatangi, pepohonan banyak yang hilang, dicuri manusia, kerusakannya sangat parah, sebab saling berebut, rusak tatanan moral, apabila malam hujan banyak pencuri, apabila siang banyak perampok.

11.Heru hara sakeh janma, rêbutan ngupaya anggêring praja, tan tahan pêrihing ati, katungka praptaneki, pagêblug ingkang linangkung, lêlara angambra-ambra, warading saktanah Jawi, enjing sakit sorenya sampun pralaya.

Huru hara seluruh manusia, saling berebut kekuasan kerajaan, tidak tahan perdihnya hati, disusul datangnya, wabah penyakit luar biasa mematikan, penyakit berjangkit kemana-mana, merata seluruh tanah Jawa, pagi sakit sorenya mati.

12.Kêsandhung wohing pralaya, kasêlak banjir ngemasi, udan barat salah mangsa, angin gung anggêgirisi, kayu gung brasta sami, tinêmpuhing angin agung, kathah rêbah amblasah, lepen-lepen samya banjir, lamun tinon pan kados samodra bêna.

Belum selesai wabah kematian, ditambah banjir bandhang yang menghabisi (nyawa), hujan angin salah musim, angin besar mengerikan, pohon-pohon besar bertumbangan, disapu angin yang besar, banyak yang roboh berserakan, sungai-sungai banyak yang banjir, apabila dilihat bagaikan lautan.

13.Alun minggah ing daratan, karya rusak têpis wiring, kang dumunung kering kanan, kajêng akeh ingkang keli, kang tumuwuh apinggir, samya kentir trusing laut, sela gêng sami brasta, kabalêbêg katut keli, gumalundhung gumludhug suwaranira.

Ombak naik kedaratan (Tsunami), membuat rusak pesisir pantai, yang berada dikiri kanannya, pohon banyak yang hanyut, yang tinggal dipesisir, hanyut ketengah lautan, bebatuan besar hancur berantakan, tersapu ikut hanyut, bergemuruh nyaring suaranya.

14.Hardi agung-agung samya, huru-hara nggêgirisi, gumlêgêr swaranira, lahar wutah kanan kering, amblêbêr angêlêbi, nrajang wana lan desa gung, manungsanya keh brastha, kêbo sapi samya gusis, sirna gêmpang tan wontên mangga puliha.

Seluruh gunung berapi, huru hara mengerikan, menggelegar suaranya, lahar tumpah disisi kanan dan kiri gunung, menenggelamkan, menerejang hutan dan perkotaan, manusia banyak yang tewas, kerbau dan Sapi habis, sirna hilang tak bisa dipulihkan lagi.


15.Lindhu ping pitu sêdina, karya sisahing sujanmi, sitinipun samya nêla, brêkasakan kang ngêlêsi, anyeret sagung janmi, manungsa pating galuruh, kathah kang nandhang roga, warna-warna ingkang sakit, awis waras akeh kang prapteng pralaya.

Gempa bumi sehari tujuh kali, membuat ketakutan manusia, tanah banyak yang retak-retak, makhluk halus (energy negative semesta) yang menghabisi, menyeret semua manusia, manusia menjerit-jerit, banyak yang terkena penyakit, bermacam-macam sakitnya, jarang yang bisa sembuh malahan banyak yang menemui kematian.

16.Sabda Palon nulya mukswa, sakêdhap botên kaeksi, wangsul ing jaman limunan, langkung ngungun Sri Bupati, njêgrêg tan bisa angling, ing manah langkung gêgêtun, kêduwung lêpatira, mupus karsaning Dewadi, kodrat iku sayêkti tan kêna owah.

Sabdo Palon kemudian menghilang, sekejap mata tidak terlihat sudah, kembali ke alam misteri, sangat keheranan Sang Prabhu, terpaku tak mampu bicara, dalam hati merasa menyesal, merasa telah berbuat salah, akhirnya hanya bisa berserah kepada Tuhan, janji yang telah terucapkan itu sesungguhnya tak akan bisa dirubah lagi.

[Narasi tersebut diatas sebagian kutipan kisah percakapan Prabu Brawijaya Sang Raja Majapahit dan Sabdo Palon serta Naya Genggong sebagai cikal bakal runtuhnya Kerajaan Majapahit dimana agama Buddha di tanah Jawa yang mengutamakan budi pekerti dan keluhuran hati akan tergantikan oleh agama islam yang penuh dengan intrik dalam ranah kekuasaan di tanah Jawa. Namun, Sabdo Palon menjanjikan akan mengambil alih kembali setelah 500 tahun kekuasaan islam dalam sistem kekuasaan di tanah Jawa terhitung mulai saat beliau moksa_penulis]