Kehebohan melanda kampung terpencil Sumberagung ketika
mendengar kabar bahwa sosok ini telah tewas di Singapore. Banyak kalangan tidak
mempercayai berita ini dan malah membuat blunder dengan menyebar isu bahwa
seolah-olah sosok sakti ini tidak mati, tapi telah "moksa" bersama jasadnya.
Disamping itu banyak orang ambil kesempatan dengan berusaha
mengambil barang-barang milik peninggalannya. Banyak orang mengira tokoh ini
menyimpan harta benda berharga di dalam padhepokannya. Namun tidak ada
seorangpun mendapatnya karena harta terpendamnya yang paling berharga justru berupa
buku-buku karya sastra yang dipenuhi syair/mantra magis telah di serahkan oleh
Tan Tek Sioe kepada satu-satunya orang kepercayaannya yakni centengnya yang
adalah seorang warga pribumi bernama Sidhik, beberapa waktu sebelum ia dipaksa
dibawa ke Singapore. Karena kesulitan ekonomi dimasa perang sipil di tahun
1965-1967 akhirnya harta karun tersebut jatuh ketangan Iskak, seseorang yang dikemudian
hari dikenal sebagai dukun sakti di Sumberagung.
[Pada medio
tahun 1965-1967, terjadi “perang sipil” di seantero Indonesia (baca : Jawa
Timur) khususnya di Blitar Selatan yang meminta korban tewas tanpa pernah bisa
dihitung hingga kini. Peristiwa ini berimbas juga di Sumberagung dan
mengakibatkan Rumah Dinas/Loji sang ayah angkat Tan Tek Sioe dijarah massa yang
dimotori oleh para santri hingga hanya menyisakan pondasinya saja]
Pada medio 1980-an datang serombongan orang yang
mencurigakan ke kampung terpencil Sumberagung mengaku sebagai ahli waris Tan
Tek Sioe dan ingin meminta semua harta yang pernah ditinggalkannya. Berbagai
jurus telah di keluarkan mereka, bahkan mereka mengaku sebagai utusan Raja
Surakarta, dan menyatakan bahwa Tan Tek Sioe merupakan keturunan Raja Surakarta
dari salah satu selir keturunan Cina walaupun tanpa mampu menyebut namanya.
[Namun, akhirnya mereka cuma mendapatkan tumpukan batu di bekas
padhepokan Tan Tek Sioe karena ternyata warga Sumberagung tidak mau menghiraukan
kehadiran mereka]
KONDISI TERKINI
Penulis merasa terkaget-kaget dan tidak habis pikir ketika di
pertengahan tahun 2013 penulis sempetin melihat kondisi Goa Tan Tek Sioe yang
begitu kontras dengan kondisi tiga dekade yang lalu yang masih nampak begitu
alami dan asri.
Penulis hanya bisa mengelus dada karena kondisi bangunan bersejarah
ini sudah rusak parah!! Dicat warna-warni dan dipager besi setinggi 3 meter seenak
udelnya serta digembok!!, sehingga pengunjung hanya dapat melongok dari
kejauhan. Terdapat beberapa mess yang dibangun serampangan. Siapakah gerangan
para perusak situs sejarah ini??
[Sebagai bentuk protes, penulis tidak mau bikin foto terbaru disana
apalagi menampilkan gambar terbarunya dalam situs ini...]
No comments:
Post a Comment