Tuesday, July 30, 2013

[MISTERI] HIDUP DAN MASA MUDA




Sejarah mencatat bahwa Tan Tek Sioe dilahirkan dengan menyandang penyakit autisme sehingga sering terkesan mengurung diri dan sulit bergaul/asosial.[Dimasa kini, berdasar penelitian, orang dengan penyakit ini usianya tercatat jarang mencapai 40 tahun]. Terlahir di Surabaya 1884 dan disia-siakan keluarganya karena dianggap asosial, tidak peduli terhadap sesama sebagai sikap bawaan penyakitnya tersebut dan suka keluyuran, asyik dengan dunianya sendiri. Ia lantas terbawa gerbong kereta hingga terdampar di sebuah wilayah terpencil di tepian Rawa Remang, sebuah lembah di wilayah perbatasan Blitar Selatan-Tulungagung  saat ini. Dia dibesarkan penguasa administratif kolonial penjajah di wilayah tersebut yang kala itu merupakan wilayah kekuasaan perkebunan milik kolonial penjajah dengan sebutan “Onderneming Soemberagoeng, Afdeeling Toeloengagoeng”.

Walaupun sering bertemu dan mencoba bergaul dengan warga lokal penggembala ternak di pinggiran Rawa Remang, ia tetap senang mengenakan jubah khas China warna ungu bergaris emas kesukaannya. Ia dibesarkan dengan disiplin tinggi oleh ayah angkatnya dan belajar sastra secara otodidak.  Ia fasih berbahasa jawa, belanda, inggris dan melayu namun tetap kental dengan ujaran dialek hokkian sebagai bahasa ibunya sehingga bagi sebagian orang yang tidak mengerti merasa bahasanya sangat aneh dan sulit dimengerti. Ia bahkan sanggup berbahasa dan menulis huruf jawa kawi/kuno seperti yang tertuang dalam buku-buku magisnya.

Ayah angkatnya memberi sepetak lahan disamping kiri rumah dinasnya/loji yang kemudian dibangun padepokan bernama Pasetraan Gondo Majeet bergaya unik yang dikemudian hari disebut Goa Tan Tik Siu. Ditempat terpisah, jauh di kaki gunung Wilis ia juga membangun sebuah padepokan di sebuah cekungan kaki bukit yang kemudian dikenal dengan Padhepokan Wilis Adhem Hatie, disana terdapat sumber air yang tidak pernah kering. Di sebuah desa terpencil bernama Pacuh di Kediri ia juga punya sebuah peninggalan berupa sumber air yang kini berada di tengah sawah. Lantas di sebuah tempat di Banyuwangi ia juga meninggalkan sebuah mata air yang kemudian di sekitarnya oleh penduduk setempat dibangun pasar tradisional sehingga dikemudian hari sumber air tersebut malah terkesan berada ditengah pasar. Sebenarnya di Sumberagung ia juga meninggalkan sebuah mata air yang tak pernah kering hingga kini, namun sumbernya sangatlah kecil, berada di arah timur padepokannya, persis didepan kelenteng mungil yang dia bikin. Rupanya ia begitu terobsesi oleh mata air.

Keberadaanya di Sumberagung lantas terlacak pihak sanak keluarga ketika seorang pelukis terkenal yang khusus melukis tokoh-tokoh Tionghoa, yakni Too Liong Too yang juga hobby melanglang buana, secara kebetulan bertemu pihak keluarga dan menyatakan telah melukis tokoh ini di sebuah padhepokan di wilayah terpencil di Perkebunan Kolonial di Sumberagung-Tulungagung.  Pihak keluarganya beberapa kali mengirim utusan untuk menjemputnya, namun ia tetap bergeming dan menolak untuk kembali ke Surabaya.

Seolah “terkena kutukan” atau memang sudah menjadi nasibnya yang selalu dirundung kesendirian, dan usia tokoh ini tergolong singkat, karena telah diberitakan tewas di Singapore diusia menjelang 30 tahun, beberapa orang menyebut 25 tahun.

[Adapun kutukan tersebut berawal ketika tidak berapa lama berselang sebelum meninggal ia diketahui telah dengan sengaja menyumbat sebuah mata air bernama Sumberbanger yang menjadi cikal bakal nama desa kelahiran penulis yaitu desa Sumberagung yang keberadaannya tidak jauh dari lokasi padepokanya, ini dilakukannya karena banyak warga yang mengeluh terganggu ibadahnya akibat aliran airnya sering menggenangi dan merendam kelenteng di tengah kota Tulungagung yang berjarak 40-an kilometer ke arah barat dari asal sumber air ini].

No comments: