Sejarah mencatat bahwa Tan Tek Sioe dilahirkan dengan menyandang
penyakit autisme sehingga sering terkesan mengurung diri dan sulit bergaul/asosial.[Dimasa kini, berdasar penelitian, orang dengan penyakit ini usianya
tercatat jarang mencapai 40 tahun]. Terlahir di Surabaya 1884 dan disia-siakan keluarganya karena
dianggap asosial, tidak peduli terhadap sesama sebagai sikap bawaan penyakitnya
tersebut dan suka keluyuran, asyik dengan dunianya sendiri. Ia lantas terbawa
gerbong kereta hingga terdampar di sebuah wilayah terpencil di tepian Rawa
Remang, sebuah lembah di wilayah perbatasan Blitar Selatan-Tulungagung saat ini. Dia dibesarkan penguasa administratif
kolonial penjajah di wilayah tersebut yang kala itu merupakan wilayah kekuasaan
perkebunan milik kolonial penjajah dengan sebutan “Onderneming Soemberagoeng,
Afdeeling Toeloengagoeng”.
Walaupun sering bertemu dan mencoba bergaul dengan warga
lokal penggembala ternak di pinggiran Rawa Remang, ia tetap senang mengenakan
jubah khas China warna ungu bergaris emas kesukaannya. Ia dibesarkan dengan
disiplin tinggi oleh ayah angkatnya dan belajar sastra secara otodidak. Ia fasih berbahasa jawa, belanda, inggris dan
melayu namun tetap kental dengan ujaran dialek hokkian sebagai bahasa ibunya
sehingga bagi sebagian orang yang tidak mengerti merasa bahasanya sangat aneh
dan sulit dimengerti. Ia bahkan sanggup berbahasa dan menulis huruf jawa
kawi/kuno seperti yang tertuang dalam buku-buku magisnya.
Ayah angkatnya memberi sepetak lahan disamping kiri rumah
dinasnya/loji yang kemudian dibangun padepokan bernama Pasetraan Gondo Majeet
bergaya unik yang dikemudian hari disebut Goa Tan Tik Siu. Ditempat terpisah,
jauh di kaki gunung Wilis ia juga membangun sebuah padepokan di sebuah cekungan
kaki bukit yang kemudian dikenal dengan Padhepokan Wilis Adhem Hatie, disana terdapat
sumber air yang tidak pernah kering. Di sebuah desa terpencil bernama Pacuh di
Kediri ia juga punya sebuah peninggalan berupa sumber air yang kini berada di
tengah sawah. Lantas di sebuah tempat di Banyuwangi ia juga meninggalkan sebuah
mata air yang kemudian di sekitarnya oleh penduduk setempat dibangun pasar
tradisional sehingga dikemudian hari sumber air tersebut malah terkesan berada
ditengah pasar. Sebenarnya di Sumberagung ia juga meninggalkan sebuah mata air
yang tak pernah kering hingga kini, namun sumbernya sangatlah kecil, berada di
arah timur padepokannya, persis didepan kelenteng mungil yang dia bikin. Rupanya
ia begitu terobsesi oleh mata air.
Keberadaanya di Sumberagung lantas terlacak pihak sanak
keluarga ketika seorang pelukis terkenal yang khusus melukis tokoh-tokoh
Tionghoa, yakni Too Liong Too yang juga hobby melanglang buana, secara
kebetulan bertemu pihak keluarga dan menyatakan telah melukis tokoh ini di
sebuah padhepokan di wilayah terpencil di Perkebunan Kolonial di
Sumberagung-Tulungagung. Pihak
keluarganya beberapa kali mengirim utusan untuk menjemputnya, namun ia tetap
bergeming dan menolak untuk kembali ke Surabaya.
Seolah “terkena kutukan” atau memang sudah menjadi nasibnya
yang selalu dirundung kesendirian, dan usia tokoh ini tergolong singkat, karena
telah diberitakan tewas di Singapore diusia menjelang 30 tahun, beberapa orang
menyebut 25 tahun.
[Adapun kutukan tersebut berawal ketika tidak berapa lama berselang sebelum
meninggal ia diketahui telah dengan sengaja menyumbat sebuah mata air bernama
Sumberbanger yang menjadi cikal bakal nama desa kelahiran penulis yaitu desa
Sumberagung yang keberadaannya tidak jauh dari lokasi padepokanya, ini
dilakukannya karena banyak warga yang mengeluh terganggu ibadahnya akibat
aliran airnya sering menggenangi dan merendam kelenteng di tengah kota
Tulungagung yang berjarak 40-an kilometer ke arah barat dari asal sumber air
ini].
No comments:
Post a Comment