Bila anda berdiri di sisi utara bekas Rawa Remang, tepatnya
dipinggir jalan inspeksi menuju Sumberagung dan melepaskan pandangan ke arah wilayah
Sumberagung, maka anda akan berat hati dan sayang untuk beranjak. Sepoi tiupan angin dan suguhan
pemandangan dengan bentang alam yang sulit mencari tandingannya akan anda
temukan disana. Dengan latar belakang liku pegunungan yang nampak keabu-abuan dan
hamparan pepohonan nyiur yang menghijau dilembahnya hingga bekas tepian Rawa
Remang disisi timur dan selatan, ditambah petak-petak sawah lengkap dengan padi
yang menguning menghampar bak permadani di atas bekas Rawa Remang....
Tidak hanya itu saja, ternyata di dalam perut bumi kampung
terpencil Sumberagung terdapat potensi cadangan bahan tambang yang luar biasa
besar. Tercatat ada aurum, cuprum dan batubara dalam jumlah yang menggiurkan.
Pihak kolonial dahulu bahkan sudah membuat pemetaan wilayah untuk keperluan
tambang ini. Seluruh akses jalan menuju dan keluar kampung ini merujuk
kepentingan eksplorasi tambang masa itu. Semua bentuk kelengkapan akomodasi dan
keperluan pendukung serta perumahan bagi operator dan buruh sudah mulai
dibangun ; rumah sakit, gereja, sekolah hingga tingkat SMU dan lainnya. Seluruh
bekas bangunan-bangunan tersebut masih bisa disaksika dan ditelusuri saat ini...
Namun sejarah rupanya berkata lain, Jepang masuk dan semua
diporak-porandakan serdadu penyembah dewa matahari ini.
Setelah Jepang bertekuk lutut pada sekutu, penguasa kolonial
masuk lagi dan berupaya mengontrol wilayah ini kembali. Namun ternyata hanya kekecewaan
belaka yang mereka temui karena apa yang telah mereka rintis dan mereka bangun sebelumnya
semua telah musnah dan malah harus menghadapi para geng penguasa lokal yang
merangkap sebagai perampok bengis dan kejam. Diantara mereka bahkan tercatat sebagai
Lurah Sumberagung sendiri bernama Wariko dan gangsternya yang terkenal sakti
mandraguna yang mengoperasikan sebuah geng rampok yang sangat disegani kawan
dan lawan.
“Yang mebedakan geng rampok ini dengan geng rampok lainnya adalah
kenekatannya, karena Geng Rampok pimpinan Lurah Wariko ini selalu mengirim
utusan terlebih dahulu kepada calon korban pada siang harinya agar korban bersiap-siap
untuk dirampok pada malam harinya”
Tidak masuk akal bukan?
anda tentu saja tidak mempercayainya, karena saya dulu juga begitu, namun
setelah saya verifikasi dengan beberapa warga yang kini sudah uzur yang dimasa
itu menjadi saksi hidup, saya justru hanya bisa geleng-geleng kepala
keheranan...karena memang begitulah yang terjadi...
“Ciri khas lain yang dimiliki geng rampok
ini adalah, dimalam perampokan mereka akan melepaskan beberapa ekor burung
merpati selepas magrib yang dipasangi peluit pada sayapnya sebagai pertanda
agar warga sekitar jangan ada yang keluar rumah untuk ikut campur tangan...”
Hingga saat ini bila
warga Sumberagung ada mendengar suara peluit dari sayap burung merpati yang
terbang malam hari masih tidak berani keluar rumah karena takut apes...
[Membicarakan sejarah Sumberagung seolah tidak ada habisnya yang
selalu berulang, timbul dan tenggelam. Sekedar cuplikan ; karena Lurah Wariko
dan gangsternya tidak mempan ditembak dan sulit dibunuh, konon mereka diikat
oleh serdadu kolonial dan ditanam hidup-hidup dalam satu lubang di sebuah
pinggiran perbatasan dusun. Satu peleton serdadu kolonial bahkan harus berjaga bergantian
selama berminggu minggu dikuburan massal ini sekedar untuk memastikan bahwa
mereka sudah mati. Kuburan mereka hingga kini masih ada dan dipelihara sanak
keturunan mereka dan selalu dikunjungi keturunannya setiap menjelang puasa
ramadan dan menjelang lebaran. Geng Rampok Lurah Wariko memang legendaris dan
tiada duanya...]
No comments:
Post a Comment