Friday, August 23, 2013

TAN TIEK SIOE MINTURUT PANDANGAN WARGA SUMBERAGUNG TERKINI


Bila saat ini anda kebetulan berada di Sumberagung dan bertanya kepada warga sekitar perihal Tan Tiek Sioe, maka tanggapan mereka akan beragam. Ada yang menyebutnya sebagai Pangeran Papak, karena memang keempat jari di kedua tangannya tergolong aneh. Keempat jarinya akan rata di kedua ujungnya baik sedang menggenggam maupun sedang berdiri. Ada orang yang menyebutnya denga sebutan “eyang” walaupun sebutan tersebut teramat tidak pantas disandangnya karena ia tewas sebelum usia 30 tahun. Ada juga yang kelewat batas memberi penghormatan terhadapnya karena saking takut akan terkena kutukan. Contohnya Mr P, orang ini bahkan ketika saya temui karena saya ingin meminjam salah satu buku karangan Ta Tiek Sioe bahkan langsung menolak keras dan malah ketakutan. Ketika saya tanya mengapa sebegitu takutnya? Jawabannya sungguh mengagetkan saya, karena minturutnya, memegang dan membaca buku karangan Tan Tiek Sioe tidak boleh sembarangan dan harus dilakukan pada malam tanggal 1 suro pada penanggalan Jawa!!.

Karena tidak mempercayai kata-katanya, lantas saya mengeluarkan salah satu buku milik saya dari tas kecil yang saya bawa yang kebetulan judulnya sama dengan miliknya, seketika ia menunjukkan wajah pucat ketakutan serta terbirit-birit entah kemana....

Saya menunggunya agak lama, namun tetap tidak muncul-muncul....lantas terdengar beep pesan pendek di hp saya, saya buka, ternyata isinya meminta agar saya memasukkan kembali buku tersebut ke tas agar dia bisa kembali. Singkat cerita, akhirnya saya turuti permintaanya dan kami ngobrol seperti biasa kembali......

Bila mau jujur, buku tersebut sebenarnya sulit dibaca oleh orang masa kini karena ditulis dengan bahasa campuran Jawa-Melayu dengan ejaan dan penulisan huruf latin zaman kuda gigit besi plus dialek Hokkian!! Pembacapun pasti akan tersiksa membacanya karena banyak istilah yang dipakai dalam buku tersebut yang kini sudah tidak dikenal lagi. Paling tebal bukunya hanya berisi tidak lebih dari 200 halaman, namun dalam waktu sebulan belum tentu anda akan dapat menyelesaikan membacanya apalagi memahaminya!! Lantas, bagaimana mungkin Mr P tersebut dapat menyelesaikannya dalam semalam?? Sungguh ironis bukan??

Banyak warga etnis Cina yang berusaha bertapa di lokasi petilasan goa padepokan Tan Tiek Sioe ini, bahkan jumlahnya mungkin sudah tak terhitung lagi, namun kesemuanya gagal mendapatkan ambisinya. Bahkan ada seorang pertapa yang konon bahkan ditangkap warga karena terbukti menghamili gadis warga sekitar dan dipaksa mengawininya!!!

Saya pernah membawa seorang teman dari Jakarta yang memang punya indera keenam yang tajam yang sama sekali tidak pernah mengerti informasi apapun perihal Tan Tiek Sioe untuk berkunjung ke petilasannya. Saya kaget ketika dia mendadak pucat pasi ketika baru masuk ke gerbang padepokan tersebut. Ketika sampai di rumah, dia cerita bahwa ia dihadang sosok pemuda etnis Cina seusia 20-an tahun dengan jubah kuno warna ungu mengkilat dengan garis tepi keemasan dengan bahasa tubuh tidak bersahabat!! Yang bikin temen pucat pasi justru ketika dia lihat jemarinya “rata” !! padahal saya sengaja tidak memberitahu apapun sebelumnya.... 

BONUS BAGI PENGUNJUNG [3] :

SYAIR YANG MENGGAMBARKAN KISAH HIDUP TAN TIEK SIOE


Kisah hidup Tan Tik Sioe tidak lepas dari kutukan seumur hidupnya. Melalui syair yang ia tatah dan abadikan di salah satu dinding padepokan miliknya, menggambarkan apa yang saya tulis ; menyandang penyakit autism, hidup melarat, menyendiri jauh dari sanak famili hingga akhir hayat, dan segudang cerita tragis hidupnya ia tulis begitu jelas dalam syair seperti yang saya kutip di bawah ini dan silahkan dengan bebas dianalisa ; 


TOENGGANG KERBOOWMOE HIDJOOW ITOE ATIE-ATIE

ZONDER SABAAR
TIDAK KAMILIKAN
ZONDER DOEWEET
DJANGAN MOORKAH
DJAOEH FAMILIMOE
TIDAK ANAK DAN BINIE
DJANGAN DJOESTAK
ZONDER OBROLL
TIDAK BOHONG
DJANGAN POERAK-POERAK
TIDAK TJEREWEET

BONUS BAGI PENGUNJUNG [2] :


SERAT SABDOPALON _ KAWACA MINTURUT TEMBANG SINOM

[Sebuah narasi berisi kisah memilukan perihal takluknya agama Buddha dalam kancah sistem kekuasaan di Tanah Jawa. Hal ini terjadi ketika penyebar agama islam telah berhasil menyusupkan perempuan muslim cantik berdarah Cina/Campa dengan dalih sebagai hadiah buat Sang Raja Majapahit yang diketika itu bernama Majalengka, yakni Prabu Brawijaya. Sang raja terpengaruh selirnya tersebut dan dari selir ini lahir Raden Patah yang kemudian meneruskan misi penyebaran agama islam melalui sistem kekuasaan di tanah Jawa sekaligus meruntuhkan Kerajaan Hindu-Buddha terbesar di  Nusantara yakni Majapahit].



1. Padha sira ngelingana, carita ing nguni-nguni, kang kocap ing sêrat Babad, Babad nagri Mojopahit, nalika duk ing nguni, Sang-a Brawijaya Prabu, pan samya pêpanggihan, kaliyan Njêng Sunan Kali, Sabda Palon Naya Genggong rencangira.

Ingatlah kalian semua, akan cerita masa lalu,yang tercantum didalam Babad(sejarah), Babad (sejarah)Negara Majapahit, ketika itu, Sang Prabhu Brawijaya, tengah bertemu, dengan Kangjeng Sunan Kalijaga, ditemani oleh Sabdo Palon dan Naya Genggong.

2. Sang-a Prabu Brawijaya, sabdanira arum manis, nuntun dhatêng punakawan, Sabda Palon paran karsi, jênêngsun sapuniki, wus ngrasuk agama Rasul. heh ta kakang manira, meluwa agama suci, luwih bêcik iki agama kang mulya.

Sang Prabhu Brawijaya, bersabda dengan lemah lembut, mengharapkan kepada kedua punakawan( pengiring dekat )-nya, Sabdo Palon bagaimana pendapatmu, diriku ini sekarang, sudah memeluk Agama Rasul (Islam), wahai kalian kakang berdua, ikutlah memeluk agama suci, lebih baik karena ini agama yang mulia.

3. Sabda Palon matur sugal, Yen kawula botên arsi, ngrasuka agama Islam, wit kula puniki yêkti, Ratuning Danghyang Jawi, momong marang anak putu, sagung kang para Nata, kang jumênêng ing tanah Jawi, wus pinasthi sayêkti kula pisahan.

Sabdo Palon menghaturkan kata-kata agak keras, Hamba tidak mau, memeluk agama Islam, sebab hamba ini sesungguhnya, Raja Danghyang ( Penguasa Gaib ) tanah Jawa, memelihara kelestarian anak cucu (penghuni tanah Jawa), (Serta) semua Para Raja, yang memerintah di tanah Jawa, sudah menjadi suratan karma(wahai Sang Prabhu), kita harus berpisah.

4. Klawan Paduka sang Nata, wangsul maring sunya ruri, mung kula matur petungna, ing benjang sak pungkur mami, yen wus prapta kang wanci, jangkêp gangsal atus taun, wit ing dintên punika, kula gantos agami, gama Budi kula sêbar ing tanah Jawa.

Dengan Paduka Wahai Sang Raja, kembali ke Sunyaruri (Alam kosong tapi ber-'isi'; Alam yang tidak ada tapi ada), hanya saja saya menghaturkan sebuah pesan agar Paduka menghitung, kelak sepeninggal hamba, apabila sudah datang waktunya, genap lima ratus tahun, mulai hari ini, akan saya ganti agama (di Jawa), agama Buddhi akan saya sebarkan ditanah Jawa.

5. Sinten tan purun nganggeya, yêkti kula rusak sami, sun sajakken putu kula, brêkasakan rupi-rupi, dereng lêga kang ati, yen durung lêbur atêmpur, kula damêl pratandha, pratandha têmbayan mami, ardi Mrapi yen wus njêblug mili lahar.

Siapa saja yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan, akan saya berikan kepada cucu saya sebagai tumbal, makhluk halus berwarna-warni (Energy negative semesta), belum puas hati hamba, apabila belum hancur lebur, saya akan membuat pertanda, pertanda sebagai janji serius saya, yaitu manakala gunung Merapi apabila sudah meletus mengeluarkan lahar.

6. Ngidul ngilen purugira, ngganda bangêr ingkang warih, nggih punika wêkdal kula, wus nyêbar agama Budi, Mêrapi janji mami, anggêrêng jagad satuhu, karsanireng Jawata, sadaya gilir gumanti, botên kenging kalamunta kaowahan.

Kearah selatan barat mengalirnya, berbau busuk air laharnya, itulah waktunya, sudah mulai menyebarkan agama Buddhi, Merapi janji saya, sungguh akan menggelegar jagad ini,(sudah) Kehendak Tuhan, (karena) segalanya (pasti akan) berganti, dan tidak mungkin untuk dirubah lagi.

7. Sangêt-sangêting sangsara, kang tuwuh ing tanah Jawi, sinêngkalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, upami anyabrang kali, prapteng têngah-têngahipun, kaline banjir bandhang, jêrone ngêlêbna jalmi, kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

Sangat sangat sengsara, yang hidup ditanah Jawa, perlambang tahun kedatangannya, LAWON SAPTA NGESTI AJI ( LAWON ; 8, SAPTA ; 7, NGESTHI ; 9, AJI ; 1 = 1978 Saka), seandainya menyeberangi sungai, ketika masih berada ditengah-tengah, banjir bandhang akan datang tiba-tiba, tingginya air mampu menenggelamkan manusia, banyak manusia sirna karena mati.

8. Bêbaya ingkang tumêka, warata sak Tanah Jawi, ginawe Kang Paring Gêsang, tan kenging dipun singgahi, wit ing donya puniki, wontên ing sakwasanipun, sadaya pra Jawata, kinarya amrêtandhani, jagad iki yêkti ana kang akarya.

Bahaya yang datang, merata diseluruh tanah Jawa, diciptakan oleh Yang Memberikan Hidup, tidak bisa untuk ditolak, sebab didunia ini, dibawah kekuasaan, Tuhan dan Para Dewa, sebagai bukti, jagad ini ada yang menciptakan.


9. Warna-warna kang bêbaya, angrusakên Tanah Jawi, sagung tiyang nambut karya, pamêdal botên nyêkapi, priyayi keh bêranti, sudagar tuna sadarum, wong glidhik ora mingsra, wong tani ora nyukupi, pamêtune akeh sirna aneng wana.

Bermacam-macam mara bahaya, merusak tanah Jawa, semua yang bekerja, hasilnya tidak mencukupi, Pejabat banyak yang lupa daratan, Pedagang mengalami kerugian, yang berkelakuan jahat semakin banyak, yang bertani tidak menghasilkan apa-apa, hasilnya banyak terbuang percuma dihutan, (maksudnya habis untuk mengelola tanah tapi hasil panen tidak ada).

10.Bumi ilang bêrkatira, ama kathah kang ndhatêngi, kayu katahah ingkang ilang, cinolong dening sujanmi, pan risaknya nglangkungi, karana rêbut rinêbut, risak tataning janma, yen dalu grimis keh maling, yen rina-wa kathah têtiyang ambengal.

Bumi hilang berkahnya, banyak hama mendatangi, pepohonan banyak yang hilang, dicuri manusia, kerusakannya sangat parah, sebab saling berebut, rusak tatanan moral, apabila malam hujan banyak pencuri, apabila siang banyak perampok.

11.Heru hara sakeh janma, rêbutan ngupaya anggêring praja, tan tahan pêrihing ati, katungka praptaneki, pagêblug ingkang linangkung, lêlara angambra-ambra, warading saktanah Jawi, enjing sakit sorenya sampun pralaya.

Huru hara seluruh manusia, saling berebut kekuasan kerajaan, tidak tahan perdihnya hati, disusul datangnya, wabah penyakit luar biasa mematikan, penyakit berjangkit kemana-mana, merata seluruh tanah Jawa, pagi sakit sorenya mati.

12.Kêsandhung wohing pralaya, kasêlak banjir ngemasi, udan barat salah mangsa, angin gung anggêgirisi, kayu gung brasta sami, tinêmpuhing angin agung, kathah rêbah amblasah, lepen-lepen samya banjir, lamun tinon pan kados samodra bêna.

Belum selesai wabah kematian, ditambah banjir bandhang yang menghabisi (nyawa), hujan angin salah musim, angin besar mengerikan, pohon-pohon besar bertumbangan, disapu angin yang besar, banyak yang roboh berserakan, sungai-sungai banyak yang banjir, apabila dilihat bagaikan lautan.

13.Alun minggah ing daratan, karya rusak têpis wiring, kang dumunung kering kanan, kajêng akeh ingkang keli, kang tumuwuh apinggir, samya kentir trusing laut, sela gêng sami brasta, kabalêbêg katut keli, gumalundhung gumludhug suwaranira.

Ombak naik kedaratan (Tsunami), membuat rusak pesisir pantai, yang berada dikiri kanannya, pohon banyak yang hanyut, yang tinggal dipesisir, hanyut ketengah lautan, bebatuan besar hancur berantakan, tersapu ikut hanyut, bergemuruh nyaring suaranya.

14.Hardi agung-agung samya, huru-hara nggêgirisi, gumlêgêr swaranira, lahar wutah kanan kering, amblêbêr angêlêbi, nrajang wana lan desa gung, manungsanya keh brastha, kêbo sapi samya gusis, sirna gêmpang tan wontên mangga puliha.

Seluruh gunung berapi, huru hara mengerikan, menggelegar suaranya, lahar tumpah disisi kanan dan kiri gunung, menenggelamkan, menerejang hutan dan perkotaan, manusia banyak yang tewas, kerbau dan Sapi habis, sirna hilang tak bisa dipulihkan lagi.


15.Lindhu ping pitu sêdina, karya sisahing sujanmi, sitinipun samya nêla, brêkasakan kang ngêlêsi, anyeret sagung janmi, manungsa pating galuruh, kathah kang nandhang roga, warna-warna ingkang sakit, awis waras akeh kang prapteng pralaya.

Gempa bumi sehari tujuh kali, membuat ketakutan manusia, tanah banyak yang retak-retak, makhluk halus (energy negative semesta) yang menghabisi, menyeret semua manusia, manusia menjerit-jerit, banyak yang terkena penyakit, bermacam-macam sakitnya, jarang yang bisa sembuh malahan banyak yang menemui kematian.

16.Sabda Palon nulya mukswa, sakêdhap botên kaeksi, wangsul ing jaman limunan, langkung ngungun Sri Bupati, njêgrêg tan bisa angling, ing manah langkung gêgêtun, kêduwung lêpatira, mupus karsaning Dewadi, kodrat iku sayêkti tan kêna owah.

Sabdo Palon kemudian menghilang, sekejap mata tidak terlihat sudah, kembali ke alam misteri, sangat keheranan Sang Prabhu, terpaku tak mampu bicara, dalam hati merasa menyesal, merasa telah berbuat salah, akhirnya hanya bisa berserah kepada Tuhan, janji yang telah terucapkan itu sesungguhnya tak akan bisa dirubah lagi.

[Narasi tersebut diatas sebagian kutipan kisah percakapan Prabu Brawijaya Sang Raja Majapahit dan Sabdo Palon serta Naya Genggong sebagai cikal bakal runtuhnya Kerajaan Majapahit dimana agama Buddha di tanah Jawa yang mengutamakan budi pekerti dan keluhuran hati akan tergantikan oleh agama islam yang penuh dengan intrik dalam ranah kekuasaan di tanah Jawa. Namun, Sabdo Palon menjanjikan akan mengambil alih kembali setelah 500 tahun kekuasaan islam dalam sistem kekuasaan di tanah Jawa terhitung mulai saat beliau moksa_penulis]  

Wednesday, July 31, 2013

BONUS BAGI PENGUNJUNG [1]:


  
Ramalan Nasib/Jiam Si karangan Tan Tek Sioe.


Buku yang memuat Jiam Si karangan Tan Tik Sioe kini sudah sangat langka, kalaupun ada pasti sudah dipalsukan, karena pada masa itupun dicetak terbatas pada tahun 1902. Buku ini kini sangat dicari orang karena ada sebagian dari mereka yang mempercayai ramalan nasib melalui Jiam SI milik Tan Tik Sioe cespleng.  Namun bagi saya, semua tidak lebih sebagai bualan belaka, karena beberapa nomor penuh siksaan fisik dan psikis, bayangkan saja, bila anda apes dapat nomor tertentu, maka anda mesti bangun setiap jam 12 malem atau jam 1 pagi buta dinihari hanya buat bakar hio, dan ini mesti dilakukan selamanya agar selamat!! Jiam Si Tan Tek Sioe ada 37 nomor berikut jawaban seperti yang saya kutip dibawah ini :

1. Tan Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kamoe menanjak malang dan moedjoer, dapet djawaban djoegak dengen sakbener-benernja, kawpoenja nasif dalem ini tempo ada sebagei roda berdjalan bloen tetep pembrentihannja kaw poenja bintang ada bintang api, djoegak perkara
oentoeng ada tipis sekali dan amat sedikit mangka kaw poenja pikiran djadi teramat soesah, tidoer mengimpi, bangoen memikir, makan mi¬noem koerang enak, djika kita pikir ? Kaw sendiri poenja salah ! Begi¬toelah proentoengan bloem bole ditentoekin, haroes saben malem djam 12 dan djam, 4 pagi kaw bole pasang hio sembajang di plataran dalem roemah, bihar dapet ati trang dan bisa dapet bebas dosah kaw itoe dengan kemoerahannja langit, boemi dan bintang.[TAN TIK SIOE].

2. Tan Tik Sioe Sian kasi mendjawab, datengmoe ini ada terboeroe¬boeroe dalem hatimoe, moehoen menanjak krana nasifmoe, begitoe¬lah kita kasi tjarita malang moedjoer semoewa itoe ada karsanja Allah ! Kahendakannja langit dan boemi, kaw poenja bintang 28 ada deket kepada 7 bintang api, dasar dirimoe ada sebagi ikan di dalem djalah, madjoe moendoer djadi serbah kaliroe, djika kaw bisa menjabarken dalam 3 taoen poenja tempo ada dapet lolos dari djalahnja, haroes sa-ben djam 12 malem dan djam 3 pagi kamoe bersoedjoet memasang hio moehoen dirimoe dalem keslametan soepaja ada 1 kwidjin bisa angkat kaw poenja soesah, dan kaw menjabarkin pegang tetep tjiptah batinmoe jang beloel soepaja Allah kesianin atas nasif dirimoe.
[TAN TIK SIOE]

3. Tan Tik Sioe kasi mendjawab, kamoe menanjak  krana dirimoe, tidak salahnja apa jang kaw tanjakin  mcngandocng   roesia    dalem  hati batinmoe, kaw poenja bintang ada bintang ajam,terbitnja pagi,   masoeknja sore, dasar kaw poenja diri ada sebagi ikan hidoep di soengi kctjil, tapi perasaannja soeda hidoep paling besar dan tidak ada laliin docnia lagi sebagi ini si soengi kctjil, mangka oentoek dirimoc masoek kaloe war sama sadja dan tidak tahan terkenak goda, liaroes djangan loepa pe¬gang pribocdi jang hati baik, djika boedinja koerang antjoerla ! Soesah dibikin betoel lagi -mangka dalem 8 taon bole menjabarken dan soedjoet jang tetep — djam 12_ malem dan djam 2 deket pagi, bihar kaw dapet bebas dosahmoe itoe, dan dapet kemoerahannja langit dan boemi, kita memoedjikin djoegak.
[TAN TIK SIOE.]

4. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw period apa ? Kaw menanjak atas kepentingan dalem kaw poenja perkara itoe, setaoe malang setaoe moedjoer kita soesah djawab — sebab ? ini adalah sedikit mengandoeng LAUW SIAT THIAN Kl roesiah Allah ! barang jang bloen terdjadi — kaw poenja bintang, bintang aer tidak besar, dasar kaw poenja diri sebagi kepi-ting hidoep dalem tambak — abis makan lantas tenggelem — kaw tidak tahan terkenak goda barang jang manis manis. Djika soeda dapet soesah baroe menjesel = kaw poenja nasif sendiri kloewar masoek serbah salah! Oentoeng tidak = roegi banjak = oentoeng besar ada goda -roegi besar
badan sehat. haroes pertjaja dan soedjoet siang malem dan pagi pasang hio, bihar dapet bebas dosah dosahmoe.[TAN TIK SIOE]

5. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw menanjak dengen laloewasa, ha ha jang ditanjak dasar atinja kras, jang ditanjakin barang jang soeda tidak bisa dikira, jang menanjak tjoema setengah hati, kaw poenja bin-tang, bintang api pagi sore tertoetoep awan hitam, kaw poenja nasif terlampaw tipis dasar dirimoe ada sebagi mendjangan ketjil hidoep di oetan, tidak tahan tinggal sendirian — atinja ketjil pendengerannja loe¬was dan getap, kaw taoe ? Kaw djangan pergi djao-djao dari negrimoe, dan djangan soekak ka¬loewar peteng hari, kaw bole soedjoet sadja kepada langit boemi bintang matahari remboelan — saben bangoen pagi djam 7 dan malem djam 12,
serta pagi djoegak djam 2, bihar kaw poenja sial bisa lenjap krana moe¬rahnja leloehoer jang soeda tidak ada.[TAN TIK SIOE]

6. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw tanjak apa ? kaw perloe mena¬njak atas barang jang penting, bagi dirimoe bloem ada ketentoehannja dan peroentoengannja riboet, kaw poenja bintang ada bintang tali tiga, dasar kaw poenja diri sebagi tepoeternja roda berdjalan jang bloen¬tentoe pembrentihannja, o o o begitoelah dalem ini djawaban ada tidak kliroenja, dapet soewarah sebagi djawaban 1 dewa berigama boeroeng, kaw taoe ? Siapa kita ada ? kaw bloen menampak orangnja soeda kagoem mangka kita djawab kaw bole menjabarkin pcrdjalanan baik, biharlah dapet trang bintangmoe itoe bertamba ada kwidjin jang toeloeng, kaw djangan tidak pertjaja  pada  kita, haroes hatimoe bersoedjoet pagi dan peteng hari bakar hio, pagi djam 7 dan malem djam 3 mengadep kulon.[TAN TIK SIOE]

7. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw menanjak atas dirimoe poenja perkara ? Baik djocgak kita kasi djawab ! kaw poenja proentocngan sc¬mocwa ada bener tapi koerang sampoerna, kaw poenja bintang djoegak bintang api di koc'on pernahnja, dasar kaw poenja diri ada sebagi hoc roeng bersarang lagi-lagi, karoesakan sarangnja krana lain boeroeng djailin haroes kaw menjabarken dan djangan taroek ati djengkel, kaw poenja nasif soeda kahendakannja Allah ! Memang deket banjak godanja, wadjib tetepin  dalem  hatinja, bole soedjoet pada langit dan boemi dengan ba¬kar 9 bidji hio jang baoenja bersih, kaw soedjoct saben pagi djam 4 dan malem djam 12, siang djam 12. Djangan brenti djangan djemoe, biharlah abis kaw poenja sial itoe, krana  dibebasken  oleh  leloehoermoe   jang soeda tidak klihatan[TAN TIK SIOE].

8. Tik Sioe Sian kasi djawaban, kaw datang menanjak, kita djawabpatah KIONG HI. Kaw dapet djawaban boekannja dari SIN boekannja dari SIAN, kaw poenja bintang betoel ada trang, kaw ada bintang besi, mi besi tidak bole deket api, kwatir djadi moeda besinja, kaw poenja nasif loemaian, tulak besar ! tidak ketjil, dasar kaw poenja diri sebagi ajam djago dalem koeroengan jang baroe, kendati kaw ada begitoe tapi kasenengan koerang, di dalem roemah teratjapkali tergodah ganti berganti mendapat sakit, kaw dilarang pegang pakerdjaan barang panas dan dilarang pegang pakerdjaan barang jang gampang menjalah, kaw poe¬nja nasif djoewal barang jang warnanja hitam, tapi djangan loepa soedjoet kepada langit dan bocmi.
[TAN TIK SIOE]

9. Tik Sio Sian kasi mendjawab, kamoe menanjak prihal kaw poenja perkara, itoelah djangan heran, sedari kaw masih ketjil terlampaw nakal, soedah besar djadi menjesel dan hatinja koerang pandei. Dalem nasif¬moe tidak begitoe seneng, dasar dirinja ada sebagi ikan hidoep sendiri di dalem soemoer jang banjak aernja, pembrasaannja soeda sangct ber¬hoentoeng bisa tinggal di doeniha jang tidak ada ka 2 bisa lawan besar¬nja. Bintangnja bintang wadja artinja kras, pendengerannja djadi amat giras dan soekak loepa tjoema maoe seneng sadja tidak perdoeli segala roepa, achir di belakang sang ikun mendapet soesah masoek di lobang ketjepit batoe. Mangka priboedinja haroes moerah dan soedjoet pada langit dun boemi  djam 12 malem dan djam 3 pagi djam 4 sore diplataran roemuhnju bakar 3 hidji hio jang baoenja bersi.
[TAN TIK SIOE]

10. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kamoe menanjak keadaannja kaw poenja oeroesan, di dalem kaw poenja badan mengandoeng penjakit, kaw poenja proentoengan djadi tergojang — dasar dirimoe sebagi klintji hidoep di groemboel, kaw poenja bintang terlampaw ketjil tapi tidak gelap, djoegak tidak brentinja sebentar-sebentar tertoetoep awan poeti.
Begitoelah kaw poenja pengidoepan djoegak loemaian serta kasenengan, tapi priboedinja ada koerang, saben-saben mendapat goda badan sakit, apa kaw taoe ? Pigimana pembrasaannja dalem kaw poenja badan ? Kaw ini tempo ada di dalem soesah ! lharoes bole soedjoet pasang 7 bidji hio djam 12 malcm dan 4 pagi di tengah plataran roemah dengen oetjap¬an poedji slamet hidoep tegoeh — sentousah — langit dan boemi kamoe sembahyangi dengen pikiran bersi[TAN TIK SIOE].


11. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kamoe ada perloe sekali dateng me¬nanjak, kaw poenja nasif sebagi boenga mekar lapi tidak membawak haroem, artinja kaw poenja hidoep tjoema goena diri sendiri, tidak me¬mikir lahin orang poenja badan, kaw poenja bintang ada bintang poetri, tjoema bagoes roepa, tidak bagoes kaw poenja hati, kaw poenja nasif betoel seneng tapi rasah tidak ada, kaw poenja diri sebagi api lampoe tidak ada tjahija tentoe itoe koerang minjaknja, djika kaw bisa mena¬barkin• dan ..pakik priboedi dermawan, tentoe tamba seneng atas nasif dirimoe, kaw bole bersoedjoet djam 12 malem dan djam 2 pagi dengen 14 bidji hio, dalem 9 taon kaw dapat partoeloengan olih leloehoermoe jang tidak klihatan[TAN TIK SIOE]

12. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw menanjak pigimana dirimoe dalem ini taon, kenapa begini sebel ? Jang ditanjak bangsa igama boe¬roeng atinja ada keras ! O o kaw taoe ? Sepoeloe dipotong 1 tentoe ting-gal 3, inilah tiga, artinja priboedi kabadjikan. Kaw poenja nasif sebagi prahoe lajar dapet angin 4 pedjoeroe djadi soesah berdjalan, dasar kaw poenja bintang, bintang batoe api. Mangka orang hidoep paling perloe sekali mengoeroes dirinja, kaw poenja nasf djadi soesah ! Dan kaw poenja hati koerang pendjagaan, inilah kaw wadjib djaga diri jang ati¬ati sekali, kaw banjak mocsoeh dan banjak orang dengki hatinja. haroes saben malem djam 1 kaw sembajang dan djam 3 pagi, mengadep koelon bersoedjoet, baroela kaw poenja diri bisa dapet ilang dosanja, tapi ? misti teroes tetepin hatimoe soedjoet Allah dan langit boemi.[TAN TIK SIOE]

13. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw perloe sekali dateng menanjak kaw poenja nasif terlampaw paiah ! Bertamba hari bertamba pajah ! Inilah lantaran kaw koerang pernata, kaw poenja bintang, bintangnja tanah, dalem hatinja soekak soesah dan banjak dipikir tapi apa jang dipi kir tidak djadinja, dasar kaw poenja diri sebagi roema jang soeda toewa tidak ada jang tinggalin dan mamliharakin, bageimanatah dalem kaw poenja prilakoe ? Kita pesan haroes bersoedjoet hati baik dan sembajang saben djam I malem dan djam 3 pagi 9 bidji hio jang bersi baoenja, serta oetjapken poedji slamet moehoen bisa dapat ati baik, dengan ber¬soedjoet tepoeter 4 pendjoeroe djangan diloepakin djangan kaw koerang pertjaja.[TAN TIK SIOE]

14. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw menanjak jang kaw tanjakin apa ? menanjak kaw poenja nasif ada loemaian dan terlampaw enak, tapi seneng tiadak. Kaw poenja bintang, bintangnja kaioe, kaw poenja hati djoegak moerah tapi kaw poenja temaha memakik akal ? Itoelah djangan berboewat, apa kaw tidak takoet pada hoekoem Allah ? Dasar kaw poe¬nja diri sebagi 1 boengah besar dan tjantik timboelnja di dalem oetan jang loewas. Dalem doenia seperti kaw soeda mendapet kasenengan djadi tidak dembawak hatsil bagi dirimoc, djangan terlampaw soehoerkin dirimoe dan djangan sombong. Djika hoekoem Allah ! soeda sampik di mana kaw hendak lari ? Lebi baik saben malem djam 12 dan djam 4 pagi soedjoet dengen 11 bidji  hio moehoen ampoenan sembajang di depan pintoe tenga, soedjoet slamanja.
[TAN TIK SIOE]

15. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw menanjak atas kaw poenja diri'.
Kaw poenja nasif ada kasenengan dan kagirangan, tapi tidak bisa tinggal lama, djika kaw maoc taoe ? Di hari toewa dapet seneng tjoema 3 taon sadja,. kaw poenja bintang, bintang masigit dalem hatinja terlampaw pandei — dan hatinja lemah ! Kaw poenja pandei tidak terpakik di ini doenia, kaw poenja nasif sebagi asep bisa masoek di lobang temboes kaloewar, dasar kaw poenja diri sebagi ikan mas dalem tempaian besar dalem pembrasaan soeda moelia tapi kamocliaannja terlampaw gelap. Haroes saben djam 12 malem. dan djam 3 pagi bersoedjoet memasang 14 bidji hio di tengah plataran dalem roema rnengadep 4 pendjoeroe, mc¬moelioen poedji slamet dengan pukik hati jang toeloes[TAN TIK SIOE].

16. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, di sini kaw dateng menanjak, kita mengoetjap soekoer dan KIONG HI, atas kaw poenja nasif betoel ada seneng, segala pakerdjaan djadi banjak oentoeng dan banjak djadinja, kaw poenja bintang, bintang boemi, segalanja tentoe moerah, apa kaw pikir adalah ! banjak njatanja. Dalem hatinja poen moerah ! Tapi djaga ati-ati, sebab kaw gampang pertjaja moeloetnja orang dan garnpang tcr¬kenak tipoe. Dasar kaw poenja diri sebagi poehoen besar dan banjak boewah .'tentoe banjak boeroeng. Mangka dalem doenia poenja perkara djangan , mendjadikan hcran, orang poenja hidoep semoea krananja wang. Haroes kaw saben malem djam 12 dan djam 4 pagi soedjoet me¬makik 12 bidji hio di depan pintoe tengah ini paling baik sekali[TAN TIK SIOE].

17. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw menanjak dalem atimoe ter-boeroe-boeroe, atas nasifmoe terlampaw riboet, makan minoem djadi koerang seneng, tidoer mengimpi, pikiran kaloet, redjekinja kosong, kaw poenja bintang, bintang api merah ! Tidak bersinar dan dalem ati¬nja sering marah, koerang bisanja menjabarken, dasar dirinja ada sebagi poehoen bamboe di poentjak boekit jang tinggi, tabiatnja tidak maoe menjerah dan banjak pembohongnja. Djika kaw tidak pakik hati priboe di dan moerah ! Tentoe kaw poenja oemoer djadi pendek, mangka harocs bersoedjoet saben djam 12 malcm dan djam 3 pagi, dengen 10 bidji hio jang baoenja bersi dengen paij kwei 12 kali diplataran roema mengadep koelon kepada pintoe djilaij, moehoen ampoenan dengen ati baik[TAN TIK SIOE]

18. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, di sinilah kaw soeda perloe sekali dateng menanjak kepada kami ? Atas kaw poenja nasif kloewar dari negri, nanti ada dapet redjeki, dan ada kwidjin yang bantoe toeloengin atas dirimoe, tapi kaw tidak bole pegang pakerdjaan besar, bolelah ! jang kira kira sad/a, dan djangan rojal. Kaw poenja bintang, bintang koe mala, dalem atinja soekak seneng mendapet poedjian, dan seneng ber gaoelan pada sesamanja, dasar dirinja sebagi soembcr aer mengalirnja ketjil, koerang tjoekoep mamliharakin dirinja sendiri, haroes memakik hati jang bener dan tetep, dan misti pegang kapertjajaan soedjoet langit dan boemi saben djam 2 malem dan djam 5 pagi dengen .3 bidji hio pa-sangin djoegak kajoe wangi, slamet !
[TAN TIK SIOE]

19. Tik Sioe Sian kasi menujawab, kaw menanjak apa jang kaw tanjakin ? Ini djawaban ada terlampaw moestadjap sebagi sinbing dan dewa poenja swarah ! Kaw poenja nasif itoe sakbenernja bloem sam poerna, kaw poenja bintang, bintang moestika dan tjantik. Djika kaw dagang baik sekali berdagang jang angka 10, apa artinja kaw misti taoe sendiri, dasar dirimoe sebagi roema ketjil jang misik baroe, bloen bisa tetep proentoengannja, kaw dilarang memliliara poesaka-poesaka barang dari besi-bcsi. haroes kaw memliharakin bekti dirimoe, saben djam 2 tengah malem soedjoet  mengadep 4 pendjoeroe tepoeter dengen 7 bidji hio jang bersih baoenja, biar kaw poenja diri mendapat rachmat adanja[TAN TIK SIOE].

20. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw menanjak haroes tetepin lebi doeloe dalem hati pikirmoe, kaw poenja nasif ada. baik dan loemaian sadja, kaw poenja bintang, bintang roempoet. Dalem hatinja soekak mengamal dan soekak berhelmoe, pikirnja bersi tapi gam pang tergoda olih pengaroenja doenia, dasar dirinja sebagi galoembang aer di laoet, kaw soekak pertjaja pada swarahnja perkataan manis dan kasar. Begitoe lah terlampaw sajang, djika kuw tidak pegang koewat talinja hidoep, O dimana kaw bisa tahan trima toufan jang begitoe besar ? Kaw bole tjarik kitab-kitab soetji KING bole batja saben djam 11-12 malem dengan pasang 1 bidji hio jang bersih baoenja dengen mengadep di thia ! pertengahan dalem roemahmoe. sendiri, biarlah nantik sinbing kasi toendjoek kaw poenja nasif djadi dapetnja sampoerna jang betoel adanja[TAN TIK SIOE]

21. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, apa perloemoe ? Kaie dateng mena¬njak kepada kami ? Atas nasif dirimoe betoel ada moedjoer dan kliwat kasenengan, tapi kaw poenja hati bloen pertjaja kepada kamoedjoeran¬moe, lantaran kaw maoe berhingin lebi dari pada orang, inilah bikin si moedjoer djadi banjak koerang. Maskipoen kaw pinter, kaw poenja pinter tidak bergoena di ini doenia, kaw poenja bintang, bintang daon. Dalem hatinja pinter kepinterun djadi bisa berbalik bodo krana gelap. Dasar dirinja ada sebagi poehoen dalima banjak doerinja, djarung sekali jang berboewat tidak dimakan oeler. haroes bikin baik dalem hatinja dan bersoedjoet moehoen ampoenan  mengadep 4 pendjoeroe tepoeter saben djam 3 pagi dengan 24 bidji hio jang bersi baoenja[TAN TIK SIOE]

22. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, di sinilah kaw ada perloe menanjak ? Kami mendjawab haroes kaw tidak dengen hati betoel, kaw poenja nasif tidak soesah ! Dan tidak terlanlar sia-sia, sebagi aer ketjil mengahr tidak poetoesnja dan kaw djangan soesah ! Kaw poenja bintang, bintang tanah koening. Dalem atinja soekak ati menjesel dan scdih, inilah tidak perloe, dasar dirinja sebagi boeroeng bloom koewat dia poenja sajap. Begitoelah kami tjcrita apa adanja, ini djawaban sebagi swara dari sorgah poenja malaekat, djangan kaw koerang pertjaja, sbrapa bole kaw tetepin dalem hatimoe bersoedjoet kepada langit dan boemi, djangan sekali-kali kaw menjesel, ini seperti seselin kepada kahendakan Allah ! Kaw soedjoel saben djam 2 malcm mengadep koelon di pintoc djilaij dengen 9 bidji hio jang bcrsih baoenja, djangan djemoe[TAN TIK SIOE]

23. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw poenja dateng di sini perloe menanjak atas dirimoe, kaw poenja nasif bloem temponja dapet nasif baik, inila ! kaw djangan menanjak pandjang lebar, kaw poenja bintang, bintang tanah pasir, dalem hatinja sering kaloet dan tidak tahan dari swarah jang besar. Dasar dirinja ada sebagi roempoet misik baroe bersemi. haroes kaw dapet menjabarkin segala goda dalem kaw poenja diri, djangan kaw menanjak ka 2 kali, satoe kali sadja tjoekoep, tjoema harus pegang hati priboedi jang baik, saben malem djam 1 bersoedjoet 12 paijkwi mengadep koelon, kapintoe  Boeda, dengen memasang kajoe wangi dan 9 bidji hio, djangan djemoe, biar kaw bisa dapet rachmatadnja[TAN TIK SIOE].

24. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw ada perloe apa dateng mena¬njak ? Kaw poenja nasif ini sakbenernja ada seneng dan bisa pakik loe¬maian sadja, tapi teratjapkali orang djailin, kaw poenja bintang, bintang tana pasir mera, dalem hatinja kras dan brani, tabiatnja brangasan. Dasar dirinja sebagi roda jang soeda toewa, maskipoen kaw hati kras poen koerang bergoena, apa api dari matahari tidak lebi kras dari kaw ? dan proentoengannja tebel tipis tinggi rendah ! Tjampoer hadoek — ini maoe, itoe maoe — semoewa kaw maoein, apa kaw maoein djoega ini doenia ? Dan apa bisa telen ini doenia ? Mangkalah ! haroes hidoep jang bisa trima tetep hati dan djangan melihat kanan dan kiri, haroes saben malem djam 12 soedjoct kepada Samtjing (Samkaw) di de-pan pintoe roemanja sendiri dengen memasang 6 bidji hio jang bersih baoe¬nja — serta pakik hati jang baik jang bisa trima menjabarkin soesahnja[TAN TIK SIOE].

25. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw dateng boewat menanjak pada kami.? Kaw poenja nasif ini ada trang dan seneng, toenggoelah lain taoen ada bisa tamba proentocnganmoe tapi tidak besar, kaw poenja bintang, bintang sedjati, tjoema kami pesan kaw djangan soekak omong men¬djoestak, djika bisa pakik ati tetep dan bener; inilah bisa tamba trang. Dasar dirinja sebagi lampoe menjala trang — tapi sinarnja koerang. Ha-roes bersoedjoet saben djam 12 malem mengadep pintoe Boeda dengan memasang 3 bidji hio jang bersih baoenja dan bakar kajoe wangi — te¬tepin hatinja moehoen pengampoenan dalem sak anak binimoe semoewa[TAN TIK SIOE]

26. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw perloe di sini boewat menanjak atas dirimoe, kaw poenja nasif poen ada baik, tidak ketjil, tidak besar, tidak tinggi, tidak rendah, kaw poenja bintang, bintang tali pati, dalem atinja banjak penakoet, teratjapkali gragap, dan berdebar zander sebab, banjak tjoeriga, tabiatnja kapiting batoe (koh kati). Dasar dirinja ada sebagi batoe kapoer jang banjak goenanja boewat bikin dinding roema, ha ha ha kami tertawakin atas dirimoe, o o haroesla pegang priboedi jang bisa tetep lahir batinnja, dan jang banjak dermawan pada se-samanja — krana kaw poenja nasif sebagi mas bloem ditapis, tjoema klihatan matjem batoe sadja, begitoelah ! kami kasi tjerita, kaw bole ber soedjoet djam 2 malem, dan djam 7 pagi di depan pintoe roemamoe sen diri dengan 9 bidji hio jang bersih baoenja, kaw djangan djemoe dan jang' bisa menjabarbin godanja doenia soepaja slamet alas nasifmoe[TAN TIK SIOE]

21. Tan Tik See Sian kasi mendjawab, kaw perloe dateng di sini ada kahendaban apa ? Kami taoe kaw menanjak alas dirimoe , di dalem KHOW KWA menoeroet itoengan boeroeng kaw poenja nasf sama se kali kosong, tapi dalem atimoe seneng, ini tandanja kaw seneng berhel¬moe dan mendjalankin priboedinja ada sebagi kami poenja anak moerid, kaw poenja bintang, bintang rantei, dalem atinja tidak sombong tapi angkoo. Dasar dirinja sebagi satoe batoe besar di atas boekit, ja kira soeda paling menangan -tapi sama anak-anak goembala berbou diboe¬wat permainan, kamoe pertjaja soedjoet sinbing — kwisin — langit —boemi bintang remboelan -tapi  tidak pertjaja priboedinja sendiri. haroes bikin tetep hati jang baik dan jang bener.( SAHIR)

Si mandarita talinja pati Hoentoeng hoentoengnja hoentoeng priboedi Djalanan rata toeloesnja hati Itoe artinja hati berboedi.
Pili pilinja -mamili bidji Pegang talinja si tali pati Boedi boedinja
 tetep sebidji Besar goenanja -memelihara hati
Aer setakir • djangan kaw pikir
Haroes mamikir titiknja saldjoe
Kamoe mamikir doenika achir
Temboesnja achir tinggalkin badjoe
Kami tjarita boekan pertjuma
Pandjang dan lebar boekak pernata
Apa dikata — ini kaw trima Sriboe ! salembar -soeda di mata.
[TAN TIK SIOE].

28. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kuw perloe dateng menanjak ? Boewat ini tempo apa kabur boewat kaw poenja nasif ? Djangan kaw heran ! Kaw poenja nasif lterlampaw kasenengan tapi dalem hati batin¬moe amat soesah ! — kuw poenja bintang, bintang asep ! Dalem hatinja banjak riboet dan gelap -soekak nafsoe dan marah soekak bingoeng, dasar kaw poenja diri ada sebagi praw zonder kemoedi, djalannja sebagi kajoe mengalir toeroet maoenja aejr, kaw poenja  nasif  di lahir seneng dalem  riboet.Haroes  saben   djam 2 malem soedjoet dengen 7 bidji  hio jang bersih baoenja, dan djam 4 pagi soedjoet 10 bidji hio di plataran dalem   roemahnja, nantik  dapet trang atinja, tapi djangan djemoe kaw soedjoet slamanya[TAN TIK SIOE].

29. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw ada menanjak kami di sini ? kaw poenja nasif ini tempo, bloem temponja, toenggoe lagi 3 taoen ada sedikit enakan, kaw poenja bintang, bintang asep ! Dalem hatinja tera¬mat roewet dan riboet, tjoema di lahir sadja klihatan garang seperti radja, dalem Hong Kwa kasi tjerita dirimoe sebagi roempoet hidoep di oetan, kaw betoel pinter tapi pinternja koerang redjeki, di sinilah ! kaw misti bisa djaga diri jang bisa menjabarkin hidoepnja, dan djangan terlam¬paw rojal, djangan terlampaw pandei bitjara, kaw poenja oentoeng bloem temponja, lebih doeloe kaw soedjoet saben djam 2 malem dan 7 pagi dengen memasang 24 hio jang bersih baoenja, kaw soedjoct dja¬ngan djemoe, slamanja bole tetepin hatimoe jang baik dan bersoedjoet 4 pendjoroe pada segala sin dan malaekat.[TAN TIK SIOE]

30. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw menanjak diatas kaw poenja badan ? Kaw poenja nasif ada koerang hatsil ' tjoema kaw dapet nama masoehoer krana kaw pinter bergaoelan, kaw poenja bintang, bintang aer tapi tidak poenja soember jang tentoe, soembernja tjoema memin djem lain soember, dasar dirinja ada sebagi anak boeroeng tidak ada sarangnja jang bagoes, dalem hatinja teramat soekak dipoedji orang, tapi djangan heran kaw poenja badan, kaw poenja seneng di hari toewa. sampai 62 baroe koembali poelang ka dzaman atsal. Maski kaw tidak bersoedjoet tidak kenapa, tapi pegang boedi jang bener. Kaw taoe ?Orang hidoep poenja roesia tjoema disoeroe membenerkin priboedi lakoenja dalem hidoepnja[TAN TIK SIOE]

31. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw di sini dateng menanjak, tetjoe poenja nasif ini tempo pigimana soehoe ?  Kami mendjawab djangan menanjak pandjang lebar, kaw poenja nasif soeda ditetepkin hidoep mengalir sebagi aer soembcr jang besar, kaw poenja bintang, bintang akar memang sak betoelnja dalem atinja amat seneng dan moerah, tapi pernatanja koerang tjoekoep - djadi redjekinja tamba lama tamba moendoer, Dasar dirinja sebagi poehoen djati jang besar goenanja, tapi bloem tentoe baik boesoeknja itoe kajoe . haroes bersoedjoet sa ben djam 1 malam dan djam 7 pagi dengan 6 bidji hio jang bersih baoenja moehoen diberi slamet dan priboedi baik — serta mengerti dalem tjib¬tahnja, .biarla ! kaw bisa dapet ati trang dan kaw poenja bintang ada terboekak. Di dalem how kwa menjeboetkin kaw ini memang beratsal dari bintang boemi poenja oedjoeng akarnja. Orang hidoep mendapet soesah terlebi doeloe ada seneng, mendapet seneng lebi doeloe djadi mlarat, kendiri ini memang ada djadi djadihannja alam jang barang kasar, maka semoewa orang djarangla jang bisa mengerti dalem dalem nja, hidoepnja kendiri poenja tabiat ada mendapet hawa dari langit dan boe mi, lantas bisa mendjadikin roepa — dalem lima perdjalanan ada koem poelnja djadi satoe mangka bisa djadi manoesia. Lagi itoe lima memang terboengkoes pada priboedinja soemanget — semoewa ada anem pen¬djoeroe jang klihatan — lima jang moestadjap -satoe jang berdjalan, hidoepnja roepa, ja ini ada hidoepnja tabiat jang djadi, mangka kami kasi tjarita pandjang lebar soepaja kaw bisa dapet mangerti atas kamanoe siaannja.[TAN TIK SIOE].

32. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw menanjak kaw poenja badan ? Di dalem Kaij Kwa dibilang kaw poenja oentoeng djadi terlampaw pemboros. Maskipoen kaw pinter kaw ada kepandeian tidak goena, kaw poenja bintang, bintang angin, djika kaw maoe taoe kami tjerita di dalam 8 taon kaw soeda memikoel sangsara, sekarang dapet sedikit se nengan djadi rojal, tidak tahan pada godanja wang, dasar kaw ada sebagi ikan besar tjoema bisa idoep di dalem soengi ketjil sadja -kaw rasa  seneng tapi bloem  taoe rasanja seneng, menoenggoe nasifj lagi 2 taoen dapet  rasanja doenia jang bloem  dikenalin rasanja, haroes tjepet- tjepet bersoedjoet saben djam 1 malem dan 7 pagi dengan 7 hio jang  bersih baoenja soepaja dapet ampoenan[TAN TIK SIOE].                              
33. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw ada perloe apa menanjak ke¬pada kami ? Menanjak kaw poenja nasifnja dirimoe segala roepa oeroes¬an bisa djadi. Gampang djadi gampang abis ! Soesah djadi soesah abis, kaw poenja bintang, bintang remboelan, tidk slamanja bisa boendar, sebab ada ditentoekin bates-batesnja dalem atinja sabentar girang-sa-bentar riboet tidak bisa tetep. Dasar dirinja ada sebagi harimaw tidak dikenalin kawannja, nasifnja menoeroet djalannja hati nasfoe tapi 1/2 djaIan djadi djemoe kaw poenja priboedi haroes diatoer jang baik, haroes bersoedjoet saben djam 12 malem dan djam 5 pagi dengan 10 bidji hio jang bersih baoenja, biar kaw ada dapet ampoen kepada langit dan boemi Ka 1 djangan mengilangken katjintaannja kaw poenja priboedi, ada 7 lobang dan ada 6 djalan, ka 2 djangan soekak soehoerken kaw poenja kapandaian, ka 3 ada tempo jang baik priboedinja hati kaw goenakin kebaikan djoegak, ka 4 ada 6 pokok — 6 pangertian 6 kamoeliaan -¬7 soemanget, 9 roh ini semoewa di dalem kaw poenja diri kaw bole pikir, ka 5 kagirangan kasenengan kabagoesan djangan kaw pakik, ka 6 djalannja aeherat mentjari lampoe dari idoepnja itoe kaw tjarik, ka 7 memasang djala bowat tangkap ikan besar dalem badanmoe itoe kaw kerdjaken, ka 8 pernataken priboedi jang toeloes hati, ka 9 kaw haroes pegang kapertjajaan atas soedjoedmoe  kepada langit dan boemi  jang dengan hati hati, begitoelah di blakang kaw bisa dapet bebas segala kaw poenja soesah rindoe hatimoe jang gelap itoe, adanja[TAN TIK SIOE].

34. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw ada menanjak dateng kemari. Atas kaw poenja nasif badan ada terlampaw kasenengan, apa jang di¬kerdjaken bisa terdjadi, tapi apa sebab kaw poenja hati bloem sekali inget bekti kepertjajaanmoe ? prihal orang poenja proentoengan itoe djoegak bisa abis, kaw poenja bintang, bintang tembaga dalem atinja tabiat brani dan pinter serta banjak sebaginja. Dasar dirinja ada sebagi diri goentoer orang melihat mendjadi takoet djangan lagi denger swara nja, kaw poenja proentoengan betoel bagoes, tapi sajang swara itoe goentoer tidak saben oedjan ada berboeni, kaw maoe pertjaja ? ? ? Haroes soedjoet saben djam  12 malem dan djam 7 pagi dengen pasang 9 bidji hio jang bersih baoenja, begini saja kita mendjawab[TAN TIK SIOE].

35. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw menanjak apa ? Apa fatsal diri nasifmoe ? nasif dirimoe ada ramei swaranja — dan banjak kaw kerdja¬kin oentocngnja poen bagoes, tapi tidak bisa simpeti, kaw poenja bin-tang, bintang bendcra, dalem atinja djoegak dermawan dan banjak kesian tapi kaw lihat orang kaja maoe telen idoep-idoep. Dasar dirinja sebagi boeroeng garoeda tentoe soekak tinggal di kajoe besar-besar jang deket octan-oetan, lebat-lebat, goenoeng-goenneng djao pada negri, dalem proentoengannja gampang dapet tapi dimakan tidak bisa kenjang, inila ! jang bisa memliharaken bekti boedinja dengan toeloes hati, djangan pan¬deng seblah kaja miskin. Haroes kaw bole soedjoet saben djam 2 malem dan djam 12 siang dengen 14 hio jang bersih baoenja soepaja kaw poenja diri tidak sial.
[TAN TIK SIOE].

36. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw menanjak seperti dengan sakbenernja. Dalem nasif dirimoe itoe ada bagoes djoegak tapi apa sebab oentoengnja koerang ? Hiat Kwa kasi tjerita kaiw poenja bintang, bintang Hawa, betoel kaw bisa ati moerah ! pandei memlihara roemah tangga dan acoor, dasar dirinja ada sebagi sinar bintang jang bisa mene¬rangin isi alam ini semoewa tapi tidak lawan 1 remboelan, kaw poenja proentoengan betoel loemaian sadja, kaw poenja seneng menoenggoe besarnja auak tjoetjoek, sala satoe ada jang simpen redjeki, kaw tidak bersoedjoet tidak kenapa atsal boedimne lebar sebagi laoctan[TAN TIK SIOE].

3 7. Tik Sioe Sian kasi mendjawab, kaw menanjak dateng di sini. Di dalem Tjiong Kwa poenja pengabisan 37 kwa, ini kaw poenja badan, kaw poenja nasif terlampaw kasenengan dan banjak orang hormatin bagi dirimoe, krana priboedimoe loewas, tapi kaw teratjapkali dapet sakit dan koerang seneng rasanja kasehatannja — kaiw poenja bintang, bintang
perak sari, dalem atinja soekak menoeloeng orang soekak menjesel dan sebcntar-sebcntar soekak loepa. Dasar dirinja ada sebagi anak mendjaga baroe kloewar soenggoenja kliatan garang dan angker. tapi kaw poenja heras hati soekak mara pada bini sendiri, dalem hati soekak tjocriga hati penakoet — tidak seneng swara ramei-ramei. Dari sakitnja badan lembek koerang koewat tidak nafsoe makan, soesah tidoer. Ha¬rocsla ! pakik hati narima, manjabarken godanja pcndengeran — denger sebelah lempar sebelah ! Bolih soedjoet saben sore djam 7 dan 12 malem djam 4 pagi[TAN TIK SIOE].

Itulah semua yang saya maksud sebagai siksa lahir bathin bila anda apes salah memilih nomor Jiam Si bikinan Tan Tek Sioe. Bila anda percaya boleh, tidak percaya juga monggo...

Tuesday, July 30, 2013

SUMBERAGUNG DAN SEJARAH SINGKAT TAN TIK SIU[TAN TEK SIOE/TAN TIEK SOE]





[Yang dimaksud sejarah Tan Tek Sioe/Tan Tik Siu/Tan Tiek Sioe di sini adalah sejarah seorang tokoh legendaris keturunan China etnis Hokkian penyandang penyakit autisme semenjak lahir yang tumbuh dan besar di sebuah kampung terisolir Sumberagung-Rejotangan-Tulungagung-Jawa Timur]

Dalam perspektif ajaran Tao, pribadi Tan Tek Sioe lebih dikenal sebagai salah satu dewa lokal yang patut disembah sehingga dia dilabeli gelar “Sian” dibelakang namanya yang berarti “Dewa”. [Dalam ajaran Tao, seseorang dapat dianggap sebagai dewa bila ilmunya sudah mencapai puncak tertingginya dalam skala piramida ilmu]. Hal ini menjelaskan mengapa para raja di nusantara zaman dahulu selalu dipersonifikasikan sebagai “dewa tertentu” dan layak disembah, karena ilmunya telah dianggap mencapai puncak tertinggi dalam skala piramida ilmu, sebagaimana yang disandang oleh pribadi Tan Tek Sioe.

Sejarah Tan Tek Sioe dianggap penuh misteri terutama bagi yang tidak mengenal sosok ini bahkan bagi warga asli kampung Sumberagung sekalipun, selain karena bakat kesaktian yang dimilikinya semenjak lahir, sebagai keturunan Cina(Hokkian) yang keberadaannya di sebuah kampung yang terisolir juga menambah kemisteriannya. Dia dikenal sebagai tabib yang disegani yang tidak pernah mengutip bayaran dan disisi lain juga sebagai seorang sastrawan. Puluhan judul buku-buku karya sastranya dipenuhi  mantera dan syair-syair magis. Namanya begitu melegenda hingga kini terutama dikalangan penganut ajaran Taoisme dan juga bagi warga Sumberagung dan sekitarnya.

[Namun ia sempat gamang ketika kepadanya dihadapkan pada sebuah masalah yang pelik dan harus memutuskan ; apakah tetap akan membiarkan sumber mata air “Sumberbanger” yang sangat besar yang berada di kaki bukit di arah selatan padhepokanya yang aliran airnya digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari warga sekitar dan juga sebagai pemasok air bagi rawa Remang, tapi dilain pihak, ia juga tidak suka aliran airnya yang debitnya begitu besar sering merendam sebuah kelenteng di tengah kota Tulungagung yang berjarak 40-an km ke arah barat dari sumber air ini yang selalu mengganggu ibadah umat]

Namun alih-alih bikin opsi ketiga ; misalnya bikin tanggul raksasa atau opsi lain dengan memindahkan kelenteng yang berada dipusat kota Tulungagung ke tempat aman, tetapi gilanya, pada akhirnya ia malah memilih opsi kedua walaupun ia tahu akan segala resiko akan tertimpa “kutukan berat”. [paham yang dianutnya mengkhultuskan sumber air]. Dia malah memilih menyumbat mata air Sumberbanger bahkan sekaligus unjuk kesaktian di depan publik dengan jurus saktinya yaitu dengan menyumbatnya menggunakan sebatang putung rokok.

[Dan benar saja “ia akhirnya memang harus menerima takdirnya yaitu mendapat kutukan tertingginya”, karena tidak lama berselang datanglah seorang komandan tentara Inggris yang ketika itu menguasai Singapore yang atasannya sakit keras tanpa pernah bisa disembuhkan oleh tabib dan dokter manapun, ia mendapat perintah tegas dari atasanya untuk mencari tabib kemanapun dan dengan ongkos berapapun. Lantas, ketika melihat kemampuan Tan Tek Sioe, ia membawanya dengan paksa ke Singapore untuk mengobati atasannya]

Dan ternyata, itulah rupanya akhir dari hidup Tan Tek Sioe... ia benar-benar tertimpa kutukan, ia tewas disana dan tak pernah kembali, ia konon tewas mengenaskan tak berapa lama setelah berhasil menyembuhkan atasan komandan tentara tersebut tanpa sanak keluarga di dekatnya dan langsung dikremasikan.  

Namun kini, bagi sebagian orang yang memiliki kemampuan tertentu, beberapa diantaranya menyatakan masih sering melihat sosok ini mondar-mandir disekitar Pasetraan Gondo Majeet lengkap dengan jubah panjang warna ungu bergaris emas kesukaanya bahkan ketika disiang bolong, yaitu di sebuah petilasannya berupa padepokan peninggalannya yang lebih dikenal dengan sebutan Goa Tan Tek Sioe/Goa Tan Tik Siu.

[MISTERI] HIDUP DAN MASA MUDA




Sejarah mencatat bahwa Tan Tek Sioe dilahirkan dengan menyandang penyakit autisme sehingga sering terkesan mengurung diri dan sulit bergaul/asosial.[Dimasa kini, berdasar penelitian, orang dengan penyakit ini usianya tercatat jarang mencapai 40 tahun]. Terlahir di Surabaya 1884 dan disia-siakan keluarganya karena dianggap asosial, tidak peduli terhadap sesama sebagai sikap bawaan penyakitnya tersebut dan suka keluyuran, asyik dengan dunianya sendiri. Ia lantas terbawa gerbong kereta hingga terdampar di sebuah wilayah terpencil di tepian Rawa Remang, sebuah lembah di wilayah perbatasan Blitar Selatan-Tulungagung  saat ini. Dia dibesarkan penguasa administratif kolonial penjajah di wilayah tersebut yang kala itu merupakan wilayah kekuasaan perkebunan milik kolonial penjajah dengan sebutan “Onderneming Soemberagoeng, Afdeeling Toeloengagoeng”.

Walaupun sering bertemu dan mencoba bergaul dengan warga lokal penggembala ternak di pinggiran Rawa Remang, ia tetap senang mengenakan jubah khas China warna ungu bergaris emas kesukaannya. Ia dibesarkan dengan disiplin tinggi oleh ayah angkatnya dan belajar sastra secara otodidak.  Ia fasih berbahasa jawa, belanda, inggris dan melayu namun tetap kental dengan ujaran dialek hokkian sebagai bahasa ibunya sehingga bagi sebagian orang yang tidak mengerti merasa bahasanya sangat aneh dan sulit dimengerti. Ia bahkan sanggup berbahasa dan menulis huruf jawa kawi/kuno seperti yang tertuang dalam buku-buku magisnya.

Ayah angkatnya memberi sepetak lahan disamping kiri rumah dinasnya/loji yang kemudian dibangun padepokan bernama Pasetraan Gondo Majeet bergaya unik yang dikemudian hari disebut Goa Tan Tik Siu. Ditempat terpisah, jauh di kaki gunung Wilis ia juga membangun sebuah padepokan di sebuah cekungan kaki bukit yang kemudian dikenal dengan Padhepokan Wilis Adhem Hatie, disana terdapat sumber air yang tidak pernah kering. Di sebuah desa terpencil bernama Pacuh di Kediri ia juga punya sebuah peninggalan berupa sumber air yang kini berada di tengah sawah. Lantas di sebuah tempat di Banyuwangi ia juga meninggalkan sebuah mata air yang kemudian di sekitarnya oleh penduduk setempat dibangun pasar tradisional sehingga dikemudian hari sumber air tersebut malah terkesan berada ditengah pasar. Sebenarnya di Sumberagung ia juga meninggalkan sebuah mata air yang tak pernah kering hingga kini, namun sumbernya sangatlah kecil, berada di arah timur padepokannya, persis didepan kelenteng mungil yang dia bikin. Rupanya ia begitu terobsesi oleh mata air.

Keberadaanya di Sumberagung lantas terlacak pihak sanak keluarga ketika seorang pelukis terkenal yang khusus melukis tokoh-tokoh Tionghoa, yakni Too Liong Too yang juga hobby melanglang buana, secara kebetulan bertemu pihak keluarga dan menyatakan telah melukis tokoh ini di sebuah padhepokan di wilayah terpencil di Perkebunan Kolonial di Sumberagung-Tulungagung.  Pihak keluarganya beberapa kali mengirim utusan untuk menjemputnya, namun ia tetap bergeming dan menolak untuk kembali ke Surabaya.

Seolah “terkena kutukan” atau memang sudah menjadi nasibnya yang selalu dirundung kesendirian, dan usia tokoh ini tergolong singkat, karena telah diberitakan tewas di Singapore diusia menjelang 30 tahun, beberapa orang menyebut 25 tahun.

[Adapun kutukan tersebut berawal ketika tidak berapa lama berselang sebelum meninggal ia diketahui telah dengan sengaja menyumbat sebuah mata air bernama Sumberbanger yang menjadi cikal bakal nama desa kelahiran penulis yaitu desa Sumberagung yang keberadaannya tidak jauh dari lokasi padepokanya, ini dilakukannya karena banyak warga yang mengeluh terganggu ibadahnya akibat aliran airnya sering menggenangi dan merendam kelenteng di tengah kota Tulungagung yang berjarak 40-an kilometer ke arah barat dari asal sumber air ini].