Tuesday, July 30, 2013

SUMBERAGUNG DAN SEJARAH SINGKAT TAN TIK SIU[TAN TEK SIOE/TAN TIEK SOE]





[Yang dimaksud sejarah Tan Tek Sioe/Tan Tik Siu/Tan Tiek Sioe di sini adalah sejarah seorang tokoh legendaris keturunan China etnis Hokkian penyandang penyakit autisme semenjak lahir yang tumbuh dan besar di sebuah kampung terisolir Sumberagung-Rejotangan-Tulungagung-Jawa Timur]

Dalam perspektif ajaran Tao, pribadi Tan Tek Sioe lebih dikenal sebagai salah satu dewa lokal yang patut disembah sehingga dia dilabeli gelar “Sian” dibelakang namanya yang berarti “Dewa”. [Dalam ajaran Tao, seseorang dapat dianggap sebagai dewa bila ilmunya sudah mencapai puncak tertingginya dalam skala piramida ilmu]. Hal ini menjelaskan mengapa para raja di nusantara zaman dahulu selalu dipersonifikasikan sebagai “dewa tertentu” dan layak disembah, karena ilmunya telah dianggap mencapai puncak tertinggi dalam skala piramida ilmu, sebagaimana yang disandang oleh pribadi Tan Tek Sioe.

Sejarah Tan Tek Sioe dianggap penuh misteri terutama bagi yang tidak mengenal sosok ini bahkan bagi warga asli kampung Sumberagung sekalipun, selain karena bakat kesaktian yang dimilikinya semenjak lahir, sebagai keturunan Cina(Hokkian) yang keberadaannya di sebuah kampung yang terisolir juga menambah kemisteriannya. Dia dikenal sebagai tabib yang disegani yang tidak pernah mengutip bayaran dan disisi lain juga sebagai seorang sastrawan. Puluhan judul buku-buku karya sastranya dipenuhi  mantera dan syair-syair magis. Namanya begitu melegenda hingga kini terutama dikalangan penganut ajaran Taoisme dan juga bagi warga Sumberagung dan sekitarnya.

[Namun ia sempat gamang ketika kepadanya dihadapkan pada sebuah masalah yang pelik dan harus memutuskan ; apakah tetap akan membiarkan sumber mata air “Sumberbanger” yang sangat besar yang berada di kaki bukit di arah selatan padhepokanya yang aliran airnya digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari warga sekitar dan juga sebagai pemasok air bagi rawa Remang, tapi dilain pihak, ia juga tidak suka aliran airnya yang debitnya begitu besar sering merendam sebuah kelenteng di tengah kota Tulungagung yang berjarak 40-an km ke arah barat dari sumber air ini yang selalu mengganggu ibadah umat]

Namun alih-alih bikin opsi ketiga ; misalnya bikin tanggul raksasa atau opsi lain dengan memindahkan kelenteng yang berada dipusat kota Tulungagung ke tempat aman, tetapi gilanya, pada akhirnya ia malah memilih opsi kedua walaupun ia tahu akan segala resiko akan tertimpa “kutukan berat”. [paham yang dianutnya mengkhultuskan sumber air]. Dia malah memilih menyumbat mata air Sumberbanger bahkan sekaligus unjuk kesaktian di depan publik dengan jurus saktinya yaitu dengan menyumbatnya menggunakan sebatang putung rokok.

[Dan benar saja “ia akhirnya memang harus menerima takdirnya yaitu mendapat kutukan tertingginya”, karena tidak lama berselang datanglah seorang komandan tentara Inggris yang ketika itu menguasai Singapore yang atasannya sakit keras tanpa pernah bisa disembuhkan oleh tabib dan dokter manapun, ia mendapat perintah tegas dari atasanya untuk mencari tabib kemanapun dan dengan ongkos berapapun. Lantas, ketika melihat kemampuan Tan Tek Sioe, ia membawanya dengan paksa ke Singapore untuk mengobati atasannya]

Dan ternyata, itulah rupanya akhir dari hidup Tan Tek Sioe... ia benar-benar tertimpa kutukan, ia tewas disana dan tak pernah kembali, ia konon tewas mengenaskan tak berapa lama setelah berhasil menyembuhkan atasan komandan tentara tersebut tanpa sanak keluarga di dekatnya dan langsung dikremasikan.  

Namun kini, bagi sebagian orang yang memiliki kemampuan tertentu, beberapa diantaranya menyatakan masih sering melihat sosok ini mondar-mandir disekitar Pasetraan Gondo Majeet lengkap dengan jubah panjang warna ungu bergaris emas kesukaanya bahkan ketika disiang bolong, yaitu di sebuah petilasannya berupa padepokan peninggalannya yang lebih dikenal dengan sebutan Goa Tan Tek Sioe/Goa Tan Tik Siu.

1 comment:

Anonymous said...

Saya Tanhadi, adalah salah satu pewaris dari Pusaka Tan Tik Sioe Sian berupa Kebut Pusaka yang biasa dipergunakan beliau sehari-hari terutama saat bertapa.

Karena saya pribadi adalah pemeluk agama.Buddha, maka agar Kebut Pusaka tersebut dapat terjaga dengan selayaknya oleh orang yang tepat, maka saya bermaksud menjualnya dengan harga Rp. 35.770.000,-. Bagi para kolektor mau pun pihak Kelenteng yang berminat serius dpt menghubungi.saya di no.hp. 087887021463. Atau di WhatsApp : 081231852885.

Terima kasih.
Tanhadi